Ntvnews.id, Istanbul - Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Syekh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menyebut kepala otoritas Israel Benjamin Netanyahu sebagai "penjahat perang". Meski demikian, Qatar tetap berkomitmen menjalankan peran mediasi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan Sheikh Mohammed dalam wawancara bersama jurnalis Inggris Piers Morgan, Selasa, 29 September 2026.
"Tentu saja. Apa yang telah dilakukan di Gaza adalah kejahatan perang dan siapa pun yang bertanggung jawab atas hal itu adalah penjahat perang," kata Sheikh Mohammed dalam wawancara dengan jurnalis Inggris Piers Morgan, Selasa, 29 September 2026.
Ia menyoroti serangan yang menyasar fasilitas sipil di Gaza, termasuk rumah sakit dan sekolah. Menurutnya, alasan apa pun yang digunakan tidak dapat menjadi pembenaran atas tindakan tersebut.
Baca Juga: PM Qatar Desak Dunia Hentikan Standar Ganda, Tuntut Israel Dihukum!
"Apa pun pembenaran dan argumennya, tidak ada yang dapat membenarkan hal itu," tambah Sheikh Mohammed.
Sheikh Mohammed juga menuding Netanyahu melakukan serangan politik terhadap Qatar sebagai upaya mengalihkan perhatian dari tindakan dan kebijakan pemerintahannya sendiri.
Ia kembali mengecam serangan Israel terhadap Doha pada 9 September 2025. Serangan tersebut menyasar sejumlah pejabat Hamas ketika Qatar tengah menjalankan peran sebagai mediator dan mengakibatkan lima anggota Hamas serta seorang petugas keamanan Qatar meninggal dunia.
"Kami diserang oleh Israel ketika kami sedang melakukan mediasi. Netanyahu telah melewati batas, sebagaimana sebelumnya dia juga telah melewati batas-batas lainnya," katanya.
Baca Juga: PM Qatar: Kami Berhak Respons Serangan Israel Secara Terang-terangan
Menurut Sheikh Mohammed, serangan tersebut menjadi peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya karena dilakukan terhadap negara yang sedang menjalankan fungsi mediasi.
Di tengah eskalasi ketegangan regional, Qatar tetap memilih jalur diplomasi. Sheikh Mohammed menilai komunikasi melalui jalur tertutup masih menjadi pendekatan yang efektif untuk mendorong tercapainya kemajuan dalam penyelesaian konflik.
"Kami berusaha sebaik mungkin untuk memberikan masukan terbaik kepada Pemerintah AS mengenai cara mencapai solusi serta kepada pihak Iran," ujarnya.
Terkait konflik yang lebih luas di kawasan, Sheikh Mohammed menyebut terdapat tiga persoalan utama yang perlu diselesaikan untuk membantu meredakan perang. Ketiganya mencakup program nuklir dan sanksi terhadap Iran, kebebasan pelayaran melalui Selat Hormuz, serta pengaturan keamanan kawasan yang melibatkan Iran dan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Ia menambahkan bahwa pembentukan kerangka keamanan regional perlu dilakukan melalui dialog dengan mengedepankan prinsip non-intervensi dan non-agresi. Selain itu, kerja sama di bidang ekonomi juga dinilai perlu diperkuat.
(Sumber: Antara)
Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani. (Antara)