Ntvnews.id, Moskow - Rusia meminta para diplomat asing meninggalkan Kyiv dan memperingatkan bahwa serangan berskala besar terhadap ibu kota Ukraina itu akan terus dilakukan.
Kementerian Luar Negeri Rusia, yang sebelumnya telah mengeluarkan peringatan serupa pada Mei lalu, menyebut serangan tersebut sebagai respons atas tindakan yang diklaim Moskow sebagai aksi "teroris" oleh Angkatan Bersenjata Ukraina terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil Rusia.
Dilansir dari Anadolu Agency, Senin, 5 Oktober 2026, Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan pasukannya akan melanjutkan serangan terarah dan sistematis terhadap fasilitas militer di Kyiv maupun sejumlah kota lain di Ukraina.
Moskow juga menyampaikan kekhawatiran lantaran peringatan sebelumnya dinilai tidak diindahkan. Sejumlah kedutaan asing masih menjalankan aktivitasnya di Kyiv, sementara pejabat dari berbagai negara juga tetap melakukan kunjungan ke Ukraina.
"Angkatan Bersenjata Federasi Rusia akan terus melakukan serangan balasan berskala besar," kata pihak kementerian dalam pernyataan resmi.
Baca Juga: Trump Kirim Utusan ke Moskow-Kyiv Bawa Proposal Perdamaian Rusia-Ukraina
Kementerian Luar Negeri Rusia turut mengimbau warga negara asing, termasuk personel misi diplomatik, agar tidak berada di Ukraina maupun melakukan perjalanan ke negara tersebut.
" Tanggung jawab atas segala kemungkinan konsekuensi buruk sepenuhnya berada pada mereka yang memilih mengabaikan peringatan ini," ungkapnya.
Ketegangan antara Moskow dan Kyiv semakin meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Kedua pihak saling melancarkan serangan dengan menyasar sejumlah titik strategis, termasuk pusat logistik, pelabuhan, dan fasilitas energi.
Baik Rusia maupun Ukraina membantah sengaja menyerang infrastruktur sipil. Keduanya menyatakan serangan diarahkan terhadap target militer atau fasilitas yang berkaitan dengan kegiatan militer.
Dalam beberapa hari terakhir, intensitas serangan ke Kyiv juga meningkat. Sejumlah jembatan yang membentang di atas Sungai Dnieper dilaporkan menjadi sasaran, salah satunya Jembatan Pivnichnyi yang diserang pada Sabtu.
Asap mengepul di kota setelah serangan pesawat tak berawak dan rudal Rusia, di tengah serangan Rusia terhadap Ukraina, di Kyiv, Ukraina 28 September 2025. (Reuters)