Kabut Asap Kebakaran Hutan Memburuk, Malaysia Liburkan Sekolah di Kuala Lumpur

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Okt 2026, 06:43
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Adiantoro
Editor
Bagikan
Ilustrasi, salahsatu sudut kota Kuala Lumpur, Malaysia Ilustrasi, salahsatu sudut kota Kuala Lumpur, Malaysia (ANTARA (Rosa Panggabean))

Ntvnews.id, Kuala Lumpur - Pemerintah Malaysia menutup sejumlah sekolah di Kuala Lumpur dan beberapa wilayah lainnya pada Jumat, 9 Oktober 2026 akibat kabut asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti negara tersebut.

Menteri Pendidikan Malaysia Fadhlina Sidek menyatakan telah memerintahkan penghentian sementara kegiatan belajar mengajar di seluruh sekolah di empat negara bagian dan dua wilayah federal. Kebijakan itu diambil menyusul penurunan kualitas udara yang dinilai membahayakan kesehatan. Sejumlah sekolah di negara bagian Pahang juga menerima instruksi serupa.

"Ke depannya, kami akan memastikan bahwa setiap keputusan untuk menutup sekolah diinformasikan lebih awal agar orang tua memiliki waktu yang cukup untuk bersiap-siap," kata Fadhlina pada Kamis, 8 Oktober 2026 malam.

Kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah menyebar ke sejumlah negara di Asia Tenggara, khususnya Malaysia, selama lebih dari satu bulan terakhir. Dampaknya, kualitas udara di Negeri Jiran terus memburuk dan kasus gangguan pernapasan dilaporkan meningkat tajam.

Penutupan sekolah tersebut dilakukan setelah Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mendesak pemerintah Indonesia segera menangani penyebab utama kebakaran hutan dan lahan. Anwar juga mengusulkan pertemuan antarnegara Asia Tenggara untuk membahas persoalan kabut asap yang berdampak lintas batas tersebut.

Baca Juga: Perdagangan RI-Malaysia Aman, Mendag Sebut Seruan Boikot Hanya Reaksi Sesaat

"Kami terus memantau situasi dan akan mengupayakan langkah-langkah lanjutan yang memang perlu dilakukan," kata Anwar.

Sepanjang pekan ini, kualitas udara di Kuala Lumpur tercatat berada dalam kategori tidak sehat. IQAir, lembaga pemantau kualitas udara yang berbasis di Swiss, bahkan menempatkan ibu kota Malaysia tersebut sebagai salah satu kota dengan tingkat polusi tertinggi di dunia selama sebagian besar hari.

Kondisi tersebut turut mendorong Raja Malaysia, Sultan Ibrahim, menyampaikan perhatian terhadap dampak kabut asap. Pada Kamis, 8 Oktober 2026, ia mengimbau agar sekolah-sekolah ditutup sementara apabila Indeks Polutan Udara (API) mencapai angka 150 atau lebih.

Di Malaysia, indeks API di atas 100 masuk kategori tidak sehat. Angka yang melampaui 200 diklasifikasikan sebagai sangat tidak sehat, sedangkan nilai di atas 300 masuk kategori berbahaya.

Sementara itu, angka API yang menembus 500 menjadi ambang batas untuk menetapkan status darurat lokal. Berdasarkan data pada Jumat, 9 Oktober 2026, indeks kualitas udara di Kuala Lumpur tercatat mencapai 170, atau berada dalam kategori tidak sehat.

Situasi tersebut memperlihatkan dampak serius kabut asap terhadap aktivitas masyarakat, terutama sektor pendidikan dan kesehatan. Penutupan sekolah menjadi salah satu langkah pencegahan untuk mengurangi paparan polusi terhadap siswa dan tenaga pengajar selama kualitas udara belum membaik.

x|close