Mesir Siap Dukung Arab Saudi Hadapi Serangan Houthi, Termasuk Opsi Militer

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Okt 2026, 08:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Serangan milisi Houthi terhadap dua bandara di Riyadh, Arab Saudi Serangan milisi Houthi terhadap dua bandara di Riyadh, Arab Saudi (Istimewa)

Ntvnews.id, Kairo - Pemerintah Mesir menyatakan kesiapannya memberikan berbagai bentuk dukungan kepada Arab Saudi menyusul meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap kerajaan tersebut. Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Dikutip dari  Abdelatty menegaskan bahwa Kairo siap merespons permintaan bantuan dari Riyadh, termasuk ketika ditanya mengenai kemungkinan dukungan militer untuk menghadapi serangan tersebut.

“Apa pun yang diminta oleh pihak Saudi, tentu kami akan merespons,” kata Abdelatty kepada Bloomberg Television.

“Tanpa reservasi apa pun, kami memberikan segala bentuk dukungan,” tambahnya dalam wawancara di sela-sela pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok yang berlangsung pada 12–18 Oktober 2026.

Selain menyatakan dukungan kepada Arab Saudi, Abdelatty mengungkapkan bahwa Mesir tengah mempertimbangkan secara serius untuk bergabung dengan Pakta Pertahanan Bersama Mekkah. Pakta tersebut saat ini melibatkan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.

“Masalah ini sedang dipertimbangkan secara serius oleh pihak Mesir,” ujarnya.

Baca Juga: Bandara Riyadh Ditutup Usai Serangan Houthi, AS Batasi Perjalanan Udara Diplomatnya

Pakta Pertahanan Bersama Mekkah ditandatangani di Mekkah pada 7 Agustus 2026 oleh Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.

Dalam perjanjian tersebut, serangan bersenjata terhadap salah satu negara anggota akan dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Turki menegaskan bahwa pakta itu bersifat defensif, tidak ditujukan untuk menghadapi negara tertentu, dan terbuka bagi negara sahabat lainnya.

Pada 5 Oktober 2026, ketiga negara anggota sepakat untuk “segera” menjalankan komitmen pertahanan kolektif menyusul meningkatnya serangan Houthi terhadap Arab Saudi. Mereka juga menyetujui langkah “pengerahan cepat” pasukan dan kemampuan militer yang telah disepakati ke wilayah Arab Saudi.

Serangan Houthi Picu Kekhawatiran Regional

Ilustrasi - Bendera Arab Saudi berkibar di depan konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 6 November 2018. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Bendera Arab Saudi berkibar di depan konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 6 November 2018. (Antara)

Pernyataan Abdelatty muncul di tengah meningkatnya serangan rudal dan pesawat nirawak kelompok Houthi yang menyasar bandara serta sejumlah fasilitas lainnya di Arab Saudi.

Menanggapi perkembangan tersebut, Turki, Mesir, Pakistan, dan Arab Saudi menerbitkan pernyataan bersama pada Minggu. Keempat negara mengecam serangan Houthi sekaligus menegaskan dukungan terhadap langkah-langkah sah yang ditempuh Riyadh untuk menghadapi dan mencegah serangan berikutnya.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dilaporkan menewaskan 13 orang dan menyebabkan 309 orang lainnya mengalami luka-luka.

Sebelumnya, pada September 2026, pemerintah Mesir menegaskan bahwa keamanan nasional negaranya memiliki keterkaitan erat dengan keamanan Arab Saudi. Kairo juga memperingatkan bahwa serangan Houthi yang terus berlangsung berpotensi memperluas ketegangan di kawasan.

Konflik di Yaman telah berlangsung sejak kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada September 2014. Peristiwa tersebut kemudian mendorong koalisi yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi militer pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.

Meningkatnya serangan terhadap wilayah Arab Saudi kini kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan. Kesiapan Mesir memberikan dukungan kepada Riyadh, serta pertimbangan untuk bergabung dengan pakta pertahanan bersama, menjadi bagian dari perkembangan diplomatik dan keamanan di tengah eskalasi konflik tersebut.

x|close