DPR Sebut Petani Kecil RI Hidupnya Gak Pernah Sejahtera

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Okt 2026, 16:33
thumbnail-author
Moh. Rizky
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi Petani Ilustrasi Petani (IG PUPUK KALTIM)

Ntvnews.id, Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyoroti nasib petani kecil di Indonesia. Menurut Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Hanan A. Rozak, sulit bagi petani kecil di RI untuk hidup layak.

Ia mengatakan, kondisi kesejahteraan petani kecil di Indonesia yang dinilai masih jauh dari kata layak meski berbagai program bantuan dan subsidi terus dikucurkan oleh pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan).

Menurutnya, ketimpangan ekonomi yang dialami para petani di tingkat bawah masih menjadi persoalan fundamental yang tak kunjung terselesaikan.

Ia mengungkapkan, kendala terbesar petani kecil dalam mencapai kesejahteraan yang mencukupi terletak pada keterbatasan luas lahan yang mereka miliki.

Menurut dia, skala ekonomi usaha tani saat ini belum mampu menutup beban dan kebutuhan hidup masyarakat yang terus meningkat.

"Ini persoalannya, ini enggak sederhana. Karena petani kita ini ya kalau ditanya apa itu petani, ya orang yang punya lahan, kalau di Jawa ini di bawah setengah hektar misalnya, ya," ujar Hanan, dikutip Jumat, 23 Oktober 2026.

Ia mempertanyakan keberlanjutan hidup para petani jika hanya mengandalkan hasil dari lahan sempit, terlebih dengan tanggungan keluarga dan lonjakan biaya hidup sehari-hari.

"Punya lahan cuma sedikit. Pertanyaannya, dengan lahan seluas itu apa cukup dengan anak jumlah sekian? Hayo, kan? Berarti apa? Ini harus ada transformasi, skala ekonominya harus dipenuhi," tuturnya.

Dia menjelaskan pola pengeluaran masyarakat desa saat ini sudah bergeser drastis seiring perkembangan zaman. Kebutuhan dasar kini tak lagi sekadar pangan, tapi juga biaya energi hingga teknologi informasi yang membebani dompet petani.

Baca Juga: Pupuk Lebih Murah, Pasokan Meningkat: Pupuk Kaltim Dukung Petani dari Hulu hingga Hilir

"Bayangin, pengeluaran sekarang ini, ya. Listrik bayar, pulsa kan, telepon mahal tuh, ini HP ini luar biasa. Belum yang lain-lainnya, anak sekolah. Apa cukup dengan luas lahan setengah hektar untuk dia bisa hidup istilahnya normal gitu, ya?" tutur Hanan.

Hanan mengatakan, miskinnya skala ekonomi tersebut turut berdampak pada krisis regenerasi di sektor pertanian.

Di samping itu, keterbatasan fisik petani usia lanjut yang tidak diimbangi dengan masuknya tenaga muda membuat produktivitas semakin terancam jika modernisasi tidak segera diterapkan secara berkelanjutan.

Dirinya mencatat rata-rata usia petani Indonesia saat ini sudah tergolong tua dan menyentuh angka 48 tahun ke atas.

"Kalau tidak salah umur petani ini sudah 48 tahun ke atas, ya, rata-ratanya. Jangan-jangan udah mendekati 50 tahun sekarang. Sehingga tenaga untuk berusaha untuk di lahan pertanian itu sudah sangat terbatas. Perlu mesin-mesin," jelas dia.

Baca Juga:  ESDM: Kita Sedang Bangun Kemandirian Energi dari Kebun Petani hingga Sampah

Atas itu, Komisi IV DPR mendorong agar pemerintah tidak hanya berfokus pada capaian angka produksi dan pemenuhan teknis pertanian semata, melainkan juga memprioritaskan kebijakan sosial-ekonomi yang mampu meningkatkan pendapatan serta daya beli para petani secara nyata.

"Kebijakannya paralel. Bukan hanya urusan teknis teknologi, tetapi kebijakan-kebijakan sosial ekonomi diperhatikan. Contoh, HPP (Harga Pembelian Pemerintah). HPP membela petani. Petani sekarang, sumringah," tandas Hanan.

x|close