AS Siapkan Serangan Baru ke Iran dalam Waktu 96 Jam

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Okt 2026, 08:25
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. (Foto: Reuters) Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. (Foto: Reuters)

Ntvnews.id, Washington D.C - Amerika Serikat (AS) dikabarkan tengah mempersiapkan operasi militer baru terhadap Iran yang dapat diluncurkan dalam waktu 96 jam setelah mendapat persetujuan Presiden Donald Trump. Serangan tersebut diperkirakan memiliki skala lebih besar dibandingkan operasi sebelumnya.

Dua pejabat AS mengatakan kepada CNN bahwa serangan terdahulu difokuskan untuk "merapikan lahan", yakni melumpuhkan kemampuan militer Iran melalui serangan terhadap radar, peluncur rudal, serta sejumlah aset militer lain yang dapat segera dipulihkan.

Adapun operasi berikutnya berpotensi menargetkan infrastruktur energi, instalasi militer, hingga fasilitas nuklir Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) bersama Pentagon dilaporkan telah menyiapkan daftar sasaran untuk kemungkinan pelaksanaan operasi tersebut.

"Ini akan menjadi upaya besar," kata salah satu pejabat AS kepada CNN, dikutip Selasa, 27 Oktober 2026.

Sejumlah pejabat AS, baik yang masih aktif maupun telah pensiun, turut memberikan penilaian mengenai kemungkinan serangan lanjutan tersebut. Mereka mengetahui pembahasan internal terkait perencanaan militer dan memperkirakan Trump bisa memberikan perintah sebelum akhir tahun ini. Meski demikian, serangan diperkirakan lebih mungkin dilakukan setelah pemilihan paruh waktu AS.

Baca Juga: Prabowo Tekankan Perlindungan Kekayaan Negara dalam Penyempurnaan Aturan Korupsi

Hingga kini, Trump belum menetapkan keputusan akhir. Para pejabat mengingatkan bahwa presiden AS itu sebelumnya pernah mempertimbangkan tindakan militer, tetapi membatalkannya menjelang pelaksanaan operasi.

Gedung Putih belum bersedia memberikan tanggapan mengenai rencana tersebut. Sementara itu, seorang pejabat senior Pentagon menegaskan bahwa lembaganya bertanggung jawab menyiapkan berbagai pilihan operasi militer berdasarkan instruksi presiden.

"Departemen ini adalah organisasi perencanaan, dan tugasnya adalah mengembangkan dan melaksanakan opsi militer yang diperintahkan oleh Presiden," kata pejabat tersebut.

AS Waspadai Serangan Balasan Iran dan Houthi

Walaupun persiapan militer terus dilakukan, rencana serangan baru terhadap Iran diperkirakan tidak akan berjalan mudah. Pasukan Iran dinilai telah mempelajari taktik militer AS sehingga berpotensi menyulitkan Washington dalam menghancurkan seluruh sasaran yang telah ditentukan.

Badan intelijen AS juga memperingatkan kemungkinan Iran dan kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan balasan apabila Washington dan Israel kembali menyerang Teheran.

Dua sumber yang mengetahui penilaian intelijen terbaru menyebut Iran dan Houthi memandang ancaman serangan baru tersebut secara serius. Keduanya diperkirakan dapat menyasar personel maupun fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah, bahkan berpotensi memperluas operasi ke wilayah lain.

Sebuah memo tidak diklasifikasikan yang diterbitkan Direktur Intelijen Nasional AS, Jay Clayton, pada 23 Oktober dan ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio, menyebut Iran telah meningkatkan upaya untuk menargetkan personel Amerika.

Dokumen tersebut juga mengungkapkan bahwa perencanaan Iran telah memasuki tahap lanjut, baik untuk sasaran di Timur Tengah maupun di sejumlah negara lainnya.

Meski demikian, pejabat intelijen AS memperkirakan Iran dan Houthi tidak akan melancarkan serangan pendahuluan yang dapat meningkatkan eskalasi terhadap personel AS atau Israel dalam waktu dekat. Namun, keduanya dinilai berpotensi membalas apabila Iran lebih dahulu diserang.

Israel Dorong Operasi Militer Bersama AS

Di tengah persiapan Washington, Israel dilaporkan terus mendorong pelaksanaan serangan lanjutan terhadap Iran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut berupaya meyakinkan Trump agar kedua negara menjalankan operasi militer secara bersama-sama.

Dua pejabat AS dan seorang sumber keamanan Israel menyebut Washington telah meminta Netanyahu menahan diri hingga pemerintahan Trump siap melaksanakan operasi gabungan.

"Netanyahu sangat menginginkan dan mencoba meyakinkan Trump untuk melakukan serangan bersama di Iran sebelum pemilihan, dan Trump tidak memberikan lampu hijau," kata sumber keamanan Israel kepada CNN.

Sumber tersebut menjelaskan bahwa Trump juga mempertimbangkan dampak serangan terhadap dinamika politik Israel. Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Eyal Zamir, disebut telah menyampaikan kepada Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, bahwa operasi militer berpotensi merugikan proses pemilihan di Israel dan menyebabkan penundaan.

Dalam sepekan terakhir, Israel dilaporkan telah meningkatkan persiapan untuk kemungkinan serangan tambahan terhadap Iran. Pemerintah Israel juga melakukan lobi kepada pejabat AS guna memperoleh dukungan bagi operasi tersebut.

Namun, sejumlah pejabat senior AS, termasuk Trump, meminta Israel menunda rencana serangannya. Washington justru memberikan sinyal bahwa operasi militer gabungan kedua negara masih berpeluang dilakukan pada waktu mendatang.

x|close