Ntvnews.id, Jakarta -Iran pada Senin (2/11) memberikan sinyal kesiapan untuk membuka kembali jalur vital perairan Selat Hormuz sekaligus melanjutkan kembali proses perundingan diplomatik dalam jangka waktu dua hari, dengan catatan pihak Amerika Serikat (AS) bersedia memenuhi seluruh tuntutan yang diajukan Teheran di tengah memanasnya tensi serta ancaman eskalasi militer antara kedua negara.
Dalam sesi konferensi pers mingguan yang dihelat di Teheran, juru bicara menyampaikan bahwa fondasi utama untuk setiap bentuk komunikasi tidak langsung antara Iran dan Washington melalui perantara tetap berpedoman pada proposal rencana tujuh hari yang sebelumnya sempat diajukan oleh Teheran pada September lalu.
Ia menambahkan bahwa pihak Iran bahkan telah memangkas durasi pelaksanaan rencana tersebut menjadi hanya dua hari sebagai wujud nyata iktikad baik dari pemerintahannya.
"Kami telah mengumumkan bahwa jika tuntutan Iran dipenuhi, akan ada kemungkinan untuk memulihkan keamanan di Selat Hormuz dan memulai proses negosiasi dalam waktu singkat," ujarnya, sambil menegaskan bahwa kelanjutan proses tersebut kini sepenuhnya berada di tangan pihak Amerika Serikat.
Baca Juga: Iran Peringatkan Perang Baru dengan AS Bisa Berlangsung Lebih Lama
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa butir-butir tuntutan yang diajukan oleh Iran merupakan hal yang sangat rasional, logis, dan transparan.
Teheran juga menegaskan bahwa ketiadaan penghentian blokade maritim anti-Iran oleh Washington serta pengabaian atas tuntutan "sah" tersebut akan membuat kesepakatan mustahil tercapai, sehingga Selat Hormuz dipastikan tidak akan dibuka kembali maupun dipulihkan keamanannya.
Sebelumnya, proposal rencana tujuh hari yang memuat klausul persyaratan penghentian konflik serta pembukaan jalur Selat Hormuz ini pertama kali diserahkan kepada pihak AS melalui perantara ketiga di sela-sela perhelatan Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York pada 22 September lalu.
Sejak saat itu, komunikasi dan pertukaran pesan terkait usulan tersebut terus bergulir di antara kedua belah pihak.
Situasi geopolitik di kawasan ini sendiri kian membara sejak militer gabungan Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan serentak terhadap Teheran serta sejumlah kota strategis di Iran pada 28 Februari lalu.
Sebagai bentuk balasan, Iran melancarkan gempuran masif menggunakan rudal dan drone yang menyasar wilayah Israel serta berbagai pangkalan militer maupun aset strategis milik AS di kawasan Timur Tengah, dibarengi dengan pengetatan kendali penuh atas jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Baca Juga: Jerman Desak Iran Buka Selat Hormuz dan Hentikan Pengembangan Nuklir
(Sumber: Antara)
Arsip foto - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei. (Antara)