Ntvnews.id, Washington DC - Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan dirinya sangat marah dan kesal terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin.
Ia mengungkapkan kejengkelannya karena perundingan gencatan senjata di Ukraina yang telah berlangsung selama berminggu-minggu belum membuahkan hasil.
Dilansir dari BBC, Rabu, 2 April 2025, Trump menyampaikan pernyataan tersebut dalam wawancara dengan NBC News. Ia mengaku geram karena Putin meragukan kredibilitas Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Trump bahkan mengancam akan memberlakukan tarif sebesar 50% terhadap negara-negara yang tetap membeli minyak dari Rusia jika Putin menolak menyepakati gencatan senjata.
"Jika Rusia dan saya tidak dapat membuat kesepakatan untuk menghentikan pertumpahan darah di Ukraina dan jika saya pikir itu adalah kesalahan Rusia, yang mungkin tidak benar, saya akan mengenakan tarif sekunder pada semua minyak yang keluar dari Rusia," ujar Trump.
Baca Juga: Terkuak Alasan Donald Trump Support Israel Serang Gaza Palestina Saat Gencatan Senjata
Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan sikap Trump terhadap Putin dan Rusia. Dalam enam minggu terakhir, Trump kerap melontarkan kritik tajam terhadap Zelensky di Ruang Oval dan menuntut berbagai konsesi dari Presiden Ukraina.
Selain itu, Trump juga kerap memberikan pujian kepada Putin dan cenderung mengakomodasi tuntutan dari pemimpin Rusia tersebut, yang membuat para pemimpin Eropa khawatir.
Namun, situasi tampaknya mulai berubah. Ini adalah pertama kalinya Trump secara serius mengancam Rusia dengan konsekuensi atas lambatnya negosiasi gencatan senjata, yang berpotensi mengembalikan tekanan diplomatik ke Moskow.
NBC News melaporkan bahwa dalam wawancara telepon berdurasi 10 menit, Trump menyatakan kemarahannya terhadap Putin karena meragukan kredibilitas kepemimpinan Zelensky. Padahal, Trump sendiri sebelumnya pernah menyebut Zelensky sebagai diktator dan menuntut agar Ukraina menggelar pemilihan umum.
"Bisa dibilang saya sangat marah, kesal, ketika Putin mulai menyinggung kredibilitas Zelensky, karena itu tidak tepat sasaran. Kepemimpinan baru berarti Anda tidak akan mendapatkan kesepakatan untuk waktu yang lama," katanya.
Trump menambahkan bahwa Kremlin mengetahui kemarahannya, namun ia tetap mengklaim memiliki "hubungan yang sangat baik" dengan Putin. Ia juga menegaskan bahwa kemarahannya akan mereda jika Putin mengambil langkah yang benar.
Jika Rusia tidak segera menindaklanjuti gencatan senjata, Trump berjanji akan mengambil tindakan ekonomi yang lebih tegas. Ia menyatakan akan menerapkan tarif tinggi terhadap berbagai produk Rusia.
Baca Juga: Trump-Putin Sepakat Perdamaian di Ukraina Dimulai dengan Gencatan Senjata Energi dan Infrastruktur
"Akan ada tarif sebesar 25% untuk minyak dan produk lain yang dijual di Amerika Serikat, tarif sekunder," kata Trump, seraya menegaskan bahwa kebijakan tersebut akan berlaku dalam waktu satu bulan jika kesepakatan gencatan senjata tidak tercapai.
Tarif sekunder tersebut merupakan sanksi bagi negara-negara yang tetap berbisnis dengan Rusia. Besaran tarif dapat meningkat hingga 50% bagi negara-negara yang masih membeli minyak dari Rusia, dengan China dan India menjadi dua pembeli terbesar saat ini.
Di sisi lain, Zelensky menanggapi pernyataan Trump melalui media sosial dengan menegaskan bahwa "Rusia terus mencari alasan untuk memperpanjang perang ini lebih jauh." Ia juga menuding Putin melakukan taktik yang sama seperti pada 2014, ketika Rusia secara sepihak mencaplok Semenanjung Krimea.
"Ini berbahaya bagi semua orang dan harus ada tanggapan yang tepat dari Amerika Serikat, Eropa, dan semua mitra global kita yang mencari perdamaian," ujar Zelensky.
Perang Rusia-Ukraina yang dimulai pada Februari 2022 kini telah memasuki tahun keempat, dengan Rusia menguasai sekitar 20% wilayah Ukraina.
Lebih dari 100.000 personel militer Rusia dilaporkan tewas dalam konflik ini. Sementara itu, Ukraina terakhir kali memperbarui jumlah korban pada Desember 2024, ketika Zelensky menyatakan bahwa 43.000 tentara dan perwira Ukraina telah gugur. Namun, menurut analis Barat, angka tersebut kemungkinan jauh lebih rendah dari jumlah korban sebenarnya
.