Ntvnews.id, Paris - Inggris dan Prancis menyatakan bahwa pasukan militernya telah melakukan operasi serangan bersama terhadap sasaran kelompok radikal Islamic State (ISIS) di Suriah. Aksi militer ini ditujukan untuk mencegah bangkitnya kembali jaringan ekstremis tersebut.
Dilansir dari AFP, Selasa, 6 Januari 2026, dalam keterangan resminya militer Prancis menjelaskan bahwa operasi gabungan itu merupakan bagian dari Operation Inherent Resolve, sebuah misi internasional yang dipimpin Amerika Serikat (AS) untuk memerangi ISIS di Irak, Suriah, hingga Libya.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Inggris mengungkapkan bahwa pihaknya bekerja sama dengan Prancis pada Sabtu, 3 Januari 2026 malam untuk menggempur sebuah fasilitas bawah tanah di Suriah. Fasilitas tersebut diduga kuat dimanfaatkan ISIS sebagai tempat penyimpanan senjata.
Dalam pernyataannya, Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan, "Pesawat-pesawat Angkatan Udara Kerajaan (Inggris) telah menyelesaikan serangan yang sukses terhadap Daesh (nama Arab untuk ISIS-red) dalam operasi gabungan dengan Prancis."
Baca Juga: Suriah Hapus 2 Angka Nol dari Uang, 100 Pound Jadi 1 Pound
Keterangan itu juga menyebutkan, "Fasilitas ini telah diduduki oleh Daesh, kemungkinan besar untuk menyimpan senjata dan peledak. Area di sekitar fasilitas tersebut tidak dihuni oleh warga sipil."
Kementerian Pertahanan Inggris menambahkan tidak ditemukan indikasi bahwa pengeboman di wilayah utara situs kuno Palmyra tersebut menimbulkan ancaman bagi penduduk sipil.
Di sisi lain, Angkatan Bersenjata Prancis melalui unggahan di media sosial X menyampaikan bahwa dalam kerangka Operation Inherent Resolve, kedua negara sekutu NATO itu "melancarkan serangan-serangan terhadap posisi kelompok teroris Islamic State".
Prancis menegaskan, "Mencegah kebangkitan kembali Daesh merupakan isu utama bagi keamanan kawasan," dalam pernyataan resminya.
Arsip foto - Sejumlah barang bukti yang diamankan oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri dari penangkapan terduga anggota kelompok teroris terafiliasi ISIS di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Sabtu, 24 Mei 2025. ANTARA/HO-Divisi Humas (Antara)
Meski ISIS telah dikalahkan secara teritorial di Suriah pada 2019, kelompok radikal itu masih mempertahankan eksistensinya, terutama di wilayah gurun yang luas. Upaya mencegah ISIS kembali menguat menjadi perhatian utama komunitas internasional, terlebih ketika Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, mantan jihadis yang kini memimpin negara itu, berupaya memperkuat stabilitas keamanan setelah menggulingkan mantan Presiden Bashar al-Assad lebih dari setahun lalu.
Palmyra, kawasan yang memiliki reruntuhan kuno terdaftar sebagai warisan dunia UNESCO, sebelumnya pernah dikuasai para petempur jihadis. Bulan lalu, Amerika Serikat melaporkan seorang pria bersenjata ISIS di Palmyra menyerang personel AS, menewaskan dua tentara Amerika dan satu warga sipil AS.
Sebagai respons, militer Washington melancarkan serangan balasan dengan menghantam puluhan target ISIS di wilayah Suriah.
Seorang pria mengibarkan bendera oposisi Suriah saat merayakan runtuhnya rezim Partai Baath yang bekuasa selama 61 tahun di Perlintasan Perbatasan Masnaa, Lebanon, Minggu, 8 Desember 2024. Pemberontak Suriah mengumumkan mereka berhasil menggulingkan (Antara)