Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria memaparkan arah baru riset strategis nasional yang diwujudkan melalui tiga jalur utama sebagai fondasi penguatan ekonomi dan daya saing bangsa.
Melalui keterangan di Jakarta, Senin, 12 Januari 2026, Arif menjelaskan tiga jalur tersebut meliputi pemanfaatan riset dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui teknologi tepat guna yang sederhana dan aplikatif.
Jalur berikutnya adalah penguatan industri serta UMKM strategis berbasis teknologi menengah hingga tinggi. Sementara jalur ketiga diarahkan pada co-development, termasuk penerapan reverse engineering.
"Kita tidak ingin investasi asing masuk, tetapi teknologinya tidak pernah kita kuasai. Itu strategi yang tidak berkelanjutan," kata Arif.
Selain itu, Arif mengungkapkan BRIN tengah menyiapkan skema Rumah Inovasi Indonesia yang akan menjadi ruang temu antara inovator, pelaku industri, penyedia modal, dan pemerintah.
Baca Juga: Kepala BRIN Dorong Riset Indonesia Berbasis Keberlanjutan dan Biodiversitas
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria
Melalui skema tersebut, BRIN menargetkan percepatan hilirisasi hasil riset dengan mengelola kekayaan intelektual, melakukan inkubasi teknologi dan bisnis, memfasilitasi business matching, serta melibatkan venture capital dalam pengembangan inovasi.
"Riset sudah banyak. Tantangannya sekarang siapa yang memproduksi dan bagaimana masuk ke pasar. Karena itu, BRIN harus dekat dengan market," ujarnya.
Arif menambahkan, model Rumah Inovasi Indonesia juga akan direplikasi melalui penguatan peran BRIN di daerah atau Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida).
Langkah ini ditujukan untuk membangun ekosistem riset dan inovasi berbasis kebutuhan lokal, sekaligus mendukung perumusan kebijakan berbasis sains atau science-based policy.
Baca Juga: Momen Kepala BRIN Laporkan Langkah-langkah Strategis Jangka Pendek ke Prabowo
Kepala BRIN, Arif Satria (Sekretariat Presiden)
Ia menegaskan komitmen BRIN untuk memperkuat peran riset sebagai motor penggerak utama dalam mewujudkan kedaulatan ekonomi, ketahanan nasional, serta pencapaian visi Indonesia Emas 2045.
Menurut Arif, BRIN saat ini tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi keras (hard technology), tetapi juga mendorong riset lintas disiplin yang mencakup bidang sosial, ekonomi, psikologi, politik, lingkungan, hingga keantariksaan dan ketenaganukliran.
"Pendekatan ini diperlukan agar riset benar-benar menjawab persoalan nyata masyarakat dan berkontribusi langsung pada pembangunan nasional," tutur Arif Satria.
(Sumber: Antara)
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria (kiri) dalam diskusi di Kantor BRIN, Jakarta, Senin, 22 Desember 2025. ANTARA/Sean Filo Muhamad/am. (Antara)