Warga Protes Minta RDF Rorotan Ditutup, Pramono: Gak Mungkin

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Jan 2026, 14:35
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Pramono Anung Pramono Anung (NTVNews.id/Adiansyah)

Ntvnews.id, Jakarta - Penolakan sejumlah warga terhadap operasional Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan kembali mencuat. Namun, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa penutupan fasilitas pengolahan sampah tersebut bukan pilihan yang memungkinkan, meskipun ada gelombang protes.

Pernyataan itu disampaikan Pramono saat melakukan kunjungan ke Taman Kelinci Roci, Cilincing, Jakarta Utara. Dalam kesempatan tersebut, seorang warga secara langsung menyampaikan keluhan terkait dampak RDF Rorotan yang dirasakan lingkungan sekitar.

Menurut Pramono, RDF Rorotan merupakan proyek strategis yang dibangun sebelum masa kepemimpinannya dan menelan anggaran yang tidak sedikit. Oleh karena itu, menutup fasilitas tersebut justru akan menimbulkan persoalan baru yang lebih kompleks.

"Jadi RDF ini terus terang kan dibangun bukan di era saya. Biayanya cukup tinggi. Kalau kemudian saya tutup, ini problemnya lebih rumit lagi, enggak mungkin," ucapnya, Jumat, 30 Januari 2026.

Pramono juga menjelaskan, akar persoalan RDF Rorotan sebenarnya bukan pada proses pengolahan sampah, melainkan pada sistem angkutan sampah. Ia mengungkapkan bahwa ceceran air lindi dari kendaraan pengangkut sampah yang menetes di jalan menjadi pemicu utama keluhan dan protes warga.

Baca Juga: Resmikan Taman Kelinci Roci di Jakut, Pramono: Dulu Tempat Ini Kumuh

Pramono Anung <b>(Ntvnews.id/Adiansyah)</b> Pramono Anung (Ntvnews.id/Adiansyah)

Baca Juga: Pramono Imbau Warga Waspada, Curah Hujan Jakarta Masih Tinggi dan Banyak Jalan Berlubang

Ia menambahkan, dari sisi operasional, RDF Rorotan telah beberapa kali melalui tahap commissioning dengan kapasitas mulai dari 200 hingga 500 ton per hari, dan hasilnya relatif tidak menimbulkan masalah berarti.

"Sedangkan Rorotan sendiri sudah berulang kali dilakukan commissioning sampai dengan 200, 300, 500 per hari, itu apa relatif tidak masalah," terangnya.

Sebagai bentuk respons atas keluhan warga, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan langkah konkret. Pramono menyebutkan bahwa pada tahun 2025, Pemprov membeli armada angkutan sampah baru yang lebih layak dan aman untuk digunakan.

Ia juga menegaskan bahwa kendaraan lama tidak lagi diizinkan beroperasi, dan untuk sementara waktu proses pengangkutan akan dihentikan guna memastikan perbaikan berjalan optimal.

"Yang lama saya tidak izinkan untuk digunakan. Dan mudah-mudahan, untuk sementara ini saya minta untuk di-stop. Mudah-mudahan ini akan bisa mengatasi persoalan transportasi sampah yang ada di Rorotan ini," tutup Pramono Anung.

x|close