Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai USD 282,91 miliar atau tumbuh 6,15 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sebagai pembanding, nilai ekspor pada Januari-Desember 2024 adalah sebesar US$266,53 miliar.
Ekspor sebesar US$282,91 miliar tersebut berasal dari ekspor migas senilai USD 13,07 miliar dan ekspor nonmigas US$269,84 miliar.
Peningkatan ekspor sepanjang 2025 terutama ditopang oleh ekspor industri pengolahan yang sebesar US$227,10 miliar atau naik 14,47 persen secara tahunan (year on year/yoy).
"Industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan ekspor sepanjang tahun 2025 dengan andil terhadap peningkatan ekspor sebesar 10,77 persen," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 2 Februari 2026.
Baca Juga: Awal Februari 2026, Harga Patokan Ekspor Konsentrat Tembaga–Emas Kompak Naik
BPS mencatat, nilai ekspor hampir semua komoditas nonmigas unggulan mengalami peningkatan sepanjang 2025. Hanya komoditas batu bara yang nilai ekspornya menurun.
Ekspor besi dan baja misalnya, nilainya meningkat 8,41 persen secara tahunan menjadi USD 27,97 miliar. Kemudian nilai ekspor CPO dan turunannya tumbuh 21,83 persen secara tahunan menjadi USD 24,42 miliar. Sedangkan nilai ekspor batu bara sepanjang 2025 tercatat sebesar USD 24,48 miliar atau turun 19,70 persen secara tahunan.
Sementara untuk negara-negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia, Tiongkok masih menjadi yang terbesar dengan 24,02 persen dari pangsa pasar. ASEAN menjadi tujuan ekspor terbesar kedua dengan 19,12 persen dari pangsa pasar, diikuti Amerika Serikat (11,47 persen), Uni Eropa (7,15 persen), India (6,79 persen), dan negara-negara lainnya (31,45 persen).
Baca Juga: Negosiasi Tarif RI–AS, Pemerintah Buka Akses Ekspor Mineral Kritis melalui Danantara
Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS)