Militer Thailand Bongkar Bukti Besar Penipuan Daring Lintas Negara di Kamboja

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Feb 2026, 13:13
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Tentara Kamboja berjaga di kawasan perbatasan Prey Chan, Banteay Meanchey, Kamboja, Jumat, 29 Agustus 2025. Meski gencatan senjata masih diberlakukan, penjagaan ketat kawasan perbatasan tetap dilakukan Tentara Kerajaan Kamboja akibat konflik perbatas Tentara Kamboja berjaga di kawasan perbatasan Prey Chan, Banteay Meanchey, Kamboja, Jumat, 29 Agustus 2025. Meski gencatan senjata masih diberlakukan, penjagaan ketat kawasan perbatasan tetap dilakukan Tentara Kerajaan Kamboja akibat konflik perbatas (Antara)

Ntvnews.id, Bangkok - Militer Thailand mengungkap temuan besar berupa berbagai bukti praktik penipuan daring lintas negara dari sebuah kompleks penipuan di Kamboja. Kompleks tersebut disita saat terjadi bentrokan antara Thailand dan Kamboja di kawasan perbatasan yang disengketakan pada tahun lalu.

Dalam pemaparan kepada wartawan dan perwakilan delegasi asing di Surin, pejabat tinggi militer Thailand menjelaskan bahwa kompleks O’Smach menampung ribuan orang. Banyak di antaranya diduga merupakan korban perdagangan manusia yang dipaksa menjalankan aksi penipuan daring terhadap warga asing, dengan ancaman hukuman jika menolak.

Militer kemudian memperlihatkan kepada awak media salah satu dari beberapa bangunan di kompleks tersebut yang sempat dibom dan diduduki pasukan Thailand pada akhir tahun lalu.

Dilansir dari AsiaOne, Selasa, 3 Februari 2026, gedung enam lantai itu dipenuhi berbagai dokumen, mulai dari daftar panjang calon korban lengkap dengan data kontak, hingga naskah dialog yang digunakan dalam skema penipuan online.

Baca Juga: Prabowo Undang Pimpinan Ormas Islam dan Ponpes ke Istana Hari Ini

Kompleks O’Smach sebelumnya memang telah lama disebut sebagai pusat operasi penipuan internasional. Amerika Serikat bahkan pernah mengaitkannya dengan praktik perdagangan manusia dan pemaksaan tindak kriminal.

“Alasan kami memperlihatkan tempat ini hari ini adalah karena kami ingin dunia melihat bagaimana lokasi ini digunakan sebagai basis kriminal terhadap kemanusiaan,” kata Direktur Jenderal Direktorat Intelijen Royal Thai Army Letnan Jenderal Teeranan Nandhakwang kepada wartawan.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Kamboja, Touch Sokhak, mengatakan kepada Reuters bahwa Thailand menggunakan keberadaan pusat penipuan sebagai alasan untuk melakukan serangan militer. Ia menegaskan bahwa Kamboja saat ini sedang melakukan penindakan terhadap praktik penipuan dan berjanji akan memberantas industri ilegal tersebut sebelum April.

Thailand dan Kamboja diketahui mengakhiri bentrokan sengit selama beberapa pekan di wilayah perbatasan pada akhir Desember melalui kesepakatan gencatan senjata. Kesepakatan ini merupakan yang kedua dalam beberapa bulan terakhir dan berhasil menghentikan konflik terburuk antara kedua negara Asia Tenggara tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Sebuah jembatan beton yang hancur terlihat di daerah perbatasan antara distrik Chong Kal di provinsi Oddar Meanchey dan distrik Srei Snam di provinsi Siem Reap, Kamboja, Sabtu 20 Desember 2025. ANTARA/Xinhua/HO-Agence Kampuchea Presse/aa. <b>(Antara)</b> Sebuah jembatan beton yang hancur terlihat di daerah perbatasan antara distrik Chong Kal di provinsi Oddar Meanchey dan distrik Srei Snam di provinsi Siem Reap, Kamboja, Sabtu 20 Desember 2025. ANTARA/Xinhua/HO-Agence Kampuchea Presse/aa. (Antara)

Selama bentrokan berlangsung, militer Thailand menyerang sejumlah kompleks kasino yang dituding sebagai pusat aktivitas penipuan. Thailand juga menyebut lokasi-lokasi tersebut digunakan untuk menyimpan senjata dan menjadi basis pelancaran serangan.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah wilayah Asia Tenggara, khususnya kawasan perbatasan Thailand, Myanmar, dan Kamboja, memang dikenal sebagai pusat kejahatan penipuan daring yang menghasilkan miliaran dolar Amerika Serikat setiap tahun.

Militer Thailand mengungkapkan, barang bukti yang disita dari kompleks O’Smach antara lain 871 kartu SIM yang memungkinkan komunikasi internasional secara anonim, puluhan telepon pintar, lencana kepolisian palsu, serta seragam polisi.

Selain itu, wartawan yang mengunjungi lokasi juga menemukan sejumlah ruangan yang ditata menyerupai kantor polisi dari berbagai negara, termasuk Brasil, China, dan Australia.

x|close