Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyambut positif capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap berada di atas 5 persen di tengah tekanan global.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi nasional pada kuartal IV 2025 tumbuh 5,39 persen, sementara secara kumulatif sepanjang tahun 2025 mencapai 5,11 persen. AHY menilai capaian tersebut patut disyukuri, mengingat kondisi geopolitik dunia yang penuh ketidakpastian, mulai dari konflik bersenjata hingga gangguan rantai pasok global.
Menurutnya, ketegangan geopolitik berpotensi besar mengganggu stabilitas ekonomi, terutama pada sektor energi dan perdagangan internasional, yang berdampak langsung pada fundamental pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Kita berupaya dengan segala upaya faktor-faktor penopang ekonomi apakah itu konsumsi rumah tangga, domestic consumption, apakah itu government spending belanja pemerintah, apakah itu investasi, maupun ekspor dihadapkan dengan impor kita mudah-mudahan tumbuh dengan baik sehingga tetap positif. Dan tentunya kita berharap bisa terus mengejar pertumbuhan yang tinggi," ucapnya usai memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Strategis Program Transformasi Transmigrasi Tahun 2026 di Kantor KemenkoInfra, Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026.
Lebih lanjut, AHY menekankan pentingnya memanfaatkan bonus demografi yang dimiliki Indonesia. Menurutnya, jendela peluang ini tidak berlangsung lama dan harus dimaksimalkan melalui pertumbuhan ekonomi yang kuat agar Indonesia mampu keluar dari middle income trap dan naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi di masa depan.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh bersifat parsial. Ia menegaskan, pertumbuhan harus diiringi dengan pemerataan dan keadilan sosial, agar tidak meninggalkan kelompok masyarakat prasejahtera, apalagi memperparah kemiskinan ekstrem.
Baca Juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,11 Persen di 2025, AHY: Tetap Positif di Tengah Gejolak Geopolitik
AHY (NTVNews.id/Adiansyah)
"Nah bicara pertumbuhan ekonomi tentu tidak boleh sepotong-sepotong. Pertumbuhan ekonomi harus diikuti dengan pemerataan, keadilan. Tidak boleh kemudian menyisakan justru ada lapisan masyarakat yang prasejahtera, yang terjebak dalam kemiskinan apalagi kemiskinan ekstrem," ungkapnya.
Sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto, pemerintah mendorong pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. AHY menyebut percepatan pembangunan Papua menjadi salah satu prioritas nasional, termasuk melalui penguatan infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik wilayah.
Infrastruktur, kata AHY, memegang peranan strategis dalam menekan ketimpangan pembangunan. Penguatan konektivitas darat, laut, dan udara dinilai krusial untuk menurunkan biaya logistik, terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) serta kawasan perbatasan.
"Agar tidak terjadi ketimpangan yang semakin ekstrem. Biaya logistik juga harus dikurangi artinya konektivitas harus diperkuat. Konektivitas tentu bukan hanya di darat karena negara kepulauan meniscayakan penguatan sektor maritim, sektor penerbangan udara agar sekali lagi biaya pembangunan ini bisa lebih terjangkau," ungkapnya lagi.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui pembangunan perumahan rakyat, sarana pendidikan, dan layanan kesehatan. Menurutnya, pembangunan infrastruktur yang terintegrasi akan mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
"Belum lagi berbicara kualitas hidup, artinya perumahan rakyat harus ditingkatkan, sarana pendidikan, kesehatan, semua itu juga penting. Nah pada akhirnya berbicara infrastruktur pasti punya peranan penting bagi peningkatan pertumbuhan dan membuka lapangan pekerjaan," tutup AHY.
AHY (NTVNews.id/Adiansyah)