Ntvnews.id, Beijing - Pemerintah China melontarkan kecaman keras terhadap pernyataan Presiden Taiwan Lai Ching-te dan menyebutnya sebagai penghasut perang, Pernyataan itu disampaikan pada Kamis, 12 Februari 2026 setelah Lai memperingatkan bahwa Beijing akan menargetkan negara-negara di kawasan Indo-Pasifik jika berhasil menguasai Taiwan.
Dalam wawancara perdananya dengan AFP sejak menjabat pada Mei 2024, Lai mengatakan bahwa jika China mengambil alih Taiwan, Beijing akan menjadi lebih agresif. Ia menilai China selanjutnya akan mengarahkan ambisi ekspansionisnya ke Jepang, Filipina, dan negara-negara lain di kawasan Indo-Pasifik.
Kementerian Luar Negeri China menuding Lai memprovokasi agresi dan kembali melabelinya sebagai penghasut perang.
Baca Juga: DPR Ingatkan TNI ke Gaza buat Kemanusiaan, Bukan Tempur!
"Pernyataan Lai Ching-te sekali lagi mengungkap sifat pro-kemerdekaannya yang keras kepala, sepenuhnya membuktikan bahwa ia adalah perusak perdamaian, pencipta krisis, dan penghasut perang," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers, dilansir AFP, Jumat, 13 Februari 2026.
"Apa pun yang dikatakan atau dilakukan Lai Ching-te, hal itu tidak dapat mengubah fakta sejarah dan hukum bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayah China." lanjut Lin.
China diketahui mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan telah mengancam akan menggunakan kekuatan untuk membawa pulau yang berpemerintahan sendiri itu di bawah kendalinya.
Dalam wawancara yang sama, Lai kembali menyatakan bahwa jika China merebut Taiwan, Beijing akan menjadi "lebih agresif, merusak perdamaian dan stabilitas di Indo-Pasifik dan tatanan internasional berbasis aturan."
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Senin (3/3/2025). (Antara)