Ntvnews.id, Moskow - Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov membantah anggapan bahwa kelompok ekonomi BRICS tengah bertransformasi menjadi aliansi militer.
Dilansir dari TASS, Senin, 16 Februari 2026, Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu, 14 Februari 2026, menanggapi berbagai spekulasi mengenai arah perkembangan blok tersebut.
Dalam wawancara dengan kantor berita negara TASS, Ryabkov menegaskan bahwa BRICS tidak dirancang sebagai aliansi militer maupun organisasi keamanan kolektif yang memiliki kewajiban pertahanan timbal balik.
“Sejak awal tidak pernah dirancang dalam semangat seperti itu, dan tidak ada rencana untuk mengubah BRICS ke arah tersebut,” kata Ryabkov.
Ia menjelaskan bahwa ruang lingkup kerja BRICS tidak mencakup aktivitas militer, seperti latihan gabungan atau pengendalian senjata. Ryabkov juga menepis anggapan bahwa latihan angkatan laut di Afrika Selatan baru-baru ini merupakan agenda resmi BRICS, dan menegaskan bahwa negara-negara yang terlibat mengikuti latihan tersebut dalam kapasitas nasional masing-masing. Latihan bertajuk “Will for Peace 2026” itu digelar pada 9–16 Januari dan melibatkan Tiongkok, Iran, serta Rusia.
Baca Juga: Palestina Ajukan Keanggotaan Penuh BRICS, Namun...
Saat ditanya mengenai kemungkinan BRICS melindungi kapal tanker milik negara anggota, Ryabkov menyatakan bahwa blok tersebut tidak memiliki kapabilitas keamanan semacam itu. Menurutnya, BRICS hanya dapat meningkatkan aspek logistik dan perlindungan dari sanksi, sementara urusan keamanan harus “dijamin dengan cara lain.”
BRICS sendiri dibentuk pada 2009 oleh Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok, dengan Afrika Selatan bergabung setahun kemudian. Keanggotaan kelompok ini kemudian diperluas dengan bergabungnya Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Ethiopia, Indonesia, dan Iran, sehingga kini memiliki 11 anggota serta sejumlah negara mitra.
Ryabkov juga menyoroti pertumbuhan perdagangan antarnegara BRICS yang melampaui rata-rata global. Ia menyebut perkembangan tersebut sebagai “indikasi bahwa BRICS, tanpa menjadi semacam ‘tongkat ajaib,’ benar-benar dapat membantu menyelesaikan masalah.”
Desain uang kertas BRICS mulai beredar luas di berbagai platform media sosial.
Selain itu, ia menyatakan bahwa BRICS dapat menunjukkan solidaritas terhadap Iran, seraya menegaskan bahwa Moskow dan Beijing terus menjalin komunikasi dengan Teheran untuk “memastikan lingkungan politik yang tepat” bagi negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Menurut Ryabkov, fokus saat ini berada “pada negosiasi yang dilakukan Iran dengan mitra-mitranya pada pekerjaan yang dilakukan Iran secara tidak langsung, terutama melalui perantara Arab, dengan Amerika.”
AS dan Iran diketahui menggelar pembicaraan tidak langsung di Muscat pada 6 Februari dengan mediasi Oman terkait program nuklir Teheran. Perundingan itu berlangsung setelah jeda sekitar delapan bulan pascaserangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran dalam konflik Iran-Israel pada Juni 2025.
Baca Juga: Prabowo: BRICS Pilar Stabilitas di Tengah Gejolak Dunia
Sementara itu, Washington meningkatkan kehadiran militernya di kawasan dan Presiden AS Donald Trump kembali memperingatkan Iran agar mencapai kesepakatan. Pengayaan uranium tetap menjadi isu utama, dengan AS menuntut Iran menghentikan aktivitas tersebut dan memindahkan uranium yang telah diperkaya tinggi ke luar negeri.
Washington juga ingin memasukkan isu program rudal dan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata ke dalam agenda negosiasi, namun Teheran menolak membahas hal-hal di luar program nuklirnya.
BRICS (Istimewa)