Ntvnews.id,
Laporan tersebut, sebagaimana dikutip RIA Novosti, Senin 2 Maret 2026, menyebut sebagian besar warga negara Inggris di kawasan itu merupakan wisatawan, baik yang sedang berlibur maupun yang tengah transit menuju wilayah lain.
Surat kabar itu menyoroti bahwa operasi ini disebut sebagai langkah dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Evakuasi dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper, dengan otoritas Inggris dilaporkan tengah bernegosiasi dengan sejumlah maskapai besar Arab guna mengamankan dukungan operasional.
Baca Juga: Inggris Izinkan AS Gunakan Pangkalan Militer untuk Tujuan Defensif di Tengah Eskalasi Iran
Eskalasi terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama pada Sabtu 28 Februari 2026, terhadap target-target di Iran, termasuk di Teheran, yang dilaporkan menyebabkan kerusakan serta korban sipil.
Iran kemudian meluncurkan serangan balasan berupa rudal ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai tindakan perlindungan diri.
Serangan tersebut terjadi meskipun pada pekan yang sama berlangsung perundingan terkait isu nuklir Iran yang dimediasi oleh Oman antara Washington dan Teheran di Jenewa, Swiss.
Baca Juga: Pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman Siap Ambil Langkah Defensif Hadapi Serangan Iran
(Sumber: Antara)
Sejumlah warga kota membentangkan poster saat aksi unjuk rasa menentang serangan AS-Israel terhadap Iran, di New York, Amerika Serikat, Sabtu 28 Maret 2026. Ratusan warga New York berkumpul di Times Square dan berjalan di sepanjang jalan-jalan di Kota New York untuk memprotes serangan udara AS-Israel terhadap Iran, Sabtu. /ANTARA FOTO/Xinhua/Zhang Fengguo/nz. (Antara)