Ntvnews.id, Washington - Iran menyatakan tidak mempercayai Amerika Serikat kepada sejumlah negara mediator yang mencoba memfasilitasi perundingan, berdasarkan pengalaman kegagalan negosiasi sebelumnya, menurut laporan portal Axios yang mengutip sumber terkait.
Menurut laporan tersebut, perundingan antara AS dan Iran telah dua kali gagal.
Pada Juni, Israel dengan dukungan Presiden AS Donald Trump menyerang Iran menjelang putaran pembicaraan, sementara pada Februari, AS dan Israel kembali melancarkan operasi setelah tercapai kesepakatan awal mengenai isu nuklir.
“Kami tidak ingin tertipu lagi,” kata salah satu sumber seperti dikutip Axios, Rabu, 25 Maret 2026.
Iran juga disebut telah menyampaikan kepada otoritas Pakistan, Mesir, dan Turki bahwa peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan semakin memperkuat kekhawatiran Teheran terhadap tawaran perundingan damai dari Trump yang dinilai berpotensi hanya menjadi strategi politik.
Baca Juga: Iran Mau Bentuk Aliansi Militer Timur Tengah Tanpa AS dan Israel
Pada Selasa 24 Maret 2026, Trump menyatakan telah menunjuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta menantunya Jared Kushner sebagai tim negosiasi Amerika Serikat dengan Iran.
Ia juga menyebut bahwa proses negosiasi akan kembali dilanjutkan pada Minggu dan menilai Teheran menunjukkan keseriusan untuk mencari penyelesaian konflik.
Namun, pada Senin, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah pernyataan tersebut dan menegaskan bahwa Iran belum menggelar pembicaraan dengan Amerika Serikat serta menilai adanya informasi palsu yang digunakan untuk memengaruhi pasar.
Baca Juga: Rusia Serukan Jalur Diplomasi Akhiri Konflik Iran-AS-Israel di Timur Tengah
Ketegangan meningkat sejak 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Amerika Serikat dan Israel awalnya menyebut serangan tersebut sebagai langkah “pendahuluan” untuk menghadapi ancaman program nuklir Iran, namun kemudian juga menyatakan keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di negara tersebut.
(Sumber: Antara)
Arsip foto - Bendera Iran terlihat di markas besar PBB di New York, AS, Rabu (8/1/2020). ANTARA/Xinhua/Li Muzi/am. ANTARA/Xinhua. (Antara)