Jerman Tak Ingin Terlibat Konflik AS-Israel dengan Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Mar 2026, 18:00
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip foto - Rudal melintas di atas Yerusalem dalam serangan yang diluncurkan Iran ke Israel (13/6/2025). (ANTARA FOTO/Xinhua/Chen Junqing/tom/am.) Arsip foto - Rudal melintas di atas Yerusalem dalam serangan yang diluncurkan Iran ke Israel (13/6/2025). (ANTARA FOTO/Xinhua/Chen Junqing/tom/am.) (Antara)

Ntvnews.id, Moskow - Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, menegaskan bahwa negaranya tidak berniat terlibat dalam aksi militer di kawasan Timur Tengah, meskipun ketegangan meningkat antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Sebelumnya, pada Maret 2026, Pistorius sempat menyatakan tidak menutup kemungkinan keterlibatan militer Jerman dalam menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Namun, ia menegaskan bahwa keputusan tersebut bergantung pada sejumlah faktor, termasuk situasi pascagencatan senjata dengan Iran.

Baca Juga: Iran Izinkan Kapal Negara Sahabat Melintas di Selat Hormuz

"Tidak ada yang meminta kami sebelumnya. Ini bukan perang kami dan karena itu kami tidak ingin terseret ke dalam perang itu, demikian untuk memperjelas hal itu," kata Pistorius saat berbicara di Parlemen Australia di Canberra bersama Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Australia Richard Marles pada Kamis.

Ia juga menyerukan agar semua pihak menghentikan kekerasan guna mencegah semakin meluasnya ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.

"Jika sampai pada titik di mana kita mencapai gencatan senjata, maka kami akan membahas setiap jenis operasi untuk mengamankan perdamaian, terutama untuk mengamankan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, tetapi waktunya belum tiba dan oleh karena itu, kami menyerukan gencatan senjata sesegera mungkin," jelas Pistorius.

Ketegangan meningkat setelah pada 28 Februari 2026 Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Baca Juga: Iran Perkuat Pertahanan Pulau Kharg, Antisipasi Operasi AS

Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer milik Amerika di kawasan Timur Tengah.

Eskalasi konflik tersebut berdampak pada terganggunya aktivitas di Selat Hormuz yang merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.

Kondisi ini turut memengaruhi produksi dan ekspor energi di kawasan, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga di pasar internasional.

(Sumber: Antara)

x|close