IMF: Uni Eropa Terancam Resesi Akibat Konflik Timur Tengah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Apr 2026, 16:50
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Pengendara mengisi bahan bakar untuk kendaraannya. ANTARA/Anadolu/py/am. Ilustrasi - Pengendara mengisi bahan bakar untuk kendaraannya. ANTARA/Anadolu/py/am. (Antara)

Ntvnews.id, Moskow - Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa Uni Eropa (UE) berpotensi mendekati kondisi resesi dengan tingkat inflasi yang hampir mencapai 5 persen akibat dampak konflik di Timur Tengah.

"Kami melihat dalam skenario yang lebih parah, guncangan pasokan yang berkelanjutan dan pengetatan kondisi keuangan bisa mendorong UE mendekati resesi dengan inflasi hampir 5 persen," kata Kepala Departemen Eropa IMF Alfred Kammer pada Jumat, 17 April 2026.

Ia menegaskan bahwa seluruh negara di kawasan Eropa tidak akan terhindar dari dampak situasi tersebut.

IMF juga memproyeksikan Bank Sentral Eropa akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin hingga akhir 2026, seiring meningkatnya ekspektasi inflasi dalam jangka pendek.

Baca Juga: Purbaya: IMF, Bank Dunia hingga Lembaga Rating Puji Strategi Fiskal RI

Menurut Kammer, arah kebijakan ke depan masih sangat bergantung pada perkembangan pasar energi global dalam beberapa pekan mendatang serta kondisi ekonomi di kawasan zona euro.

Ia menambahkan bahwa meskipun inflasi zona euro mulai mendekati target dan ekspektasi jangka menengah relatif stabil, Bank Sentral Eropa masih memiliki ruang waktu untuk memantau dampak konflik sebelum mengambil kebijakan lanjutan.

IMF menilai bahwa dampak utama konflik terhadap Uni Eropa berasal dari lonjakan harga energi yang signifikan.

"Harga energi industri di UE kini sekitar dua kali lipat dibanding sebelum 2022 dan jauh lebih tinggi daripada di AS," ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh tingginya ketergantungan negara-negara Eropa terhadap impor energi serta adanya fragmentasi pasar energi di kawasan tersebut.

Baca Juga: Ekonomi RI Dipuji IMF hingga Investor Global, Analis: Momentum Perkuat Kedaulatan Ekonomi

Sementara itu, untuk Inggris, IMF menilai kebijakan moneter yang ketat masih perlu dipertahankan guna meredam tekanan inflasi.

IMF bahkan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Inggris untuk tahun 2026, yang dinilai lebih tajam dibandingkan negara-negara G7 lainnya.

Inflasi di negara tersebut diperkirakan mencapai 3,2 persen pada tahun ini.

Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves menyatakan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi tantangan besar bagi perekonomian negaranya.

(Sumber: Antara)

x|close