Ntvnews.id, Taheran - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyerukan kepada negara-negara Teluk agar tidak mengizinkan wilayah mereka digunakan sebagai pangkalan operasi oleh pihak yang ia sebut sebagai musuh di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial pada Sabtu, 28 Maret 2026, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak memulai serangan lebih dulu, namun akan memberikan respons tegas apabila infrastruktur dan pusat ekonominya menjadi sasaran.
“Jika Anda menginginkan pembangunan dan keamanan, jangan biarkan musuh kami menjalankan perang dari wilayah Anda,” tulisnya, dilansir dari Yeni Safak, Senin, 30 Maret 2026.
Pernyataan tersebut muncul seiring meningkatnya eskalasi konflik sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu.
Baca Juga: Daftar Negara yang Kapal Tankernya Diizinkan Iran Lewati Selat Hormuz, Indonesia?
Konflik itu dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Selain itu, Iran juga melakukan serangan balasan berupa gelombang drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Pernyataan Pezeshkian dinilai sebagai pesan langsung kepada negara-negara Teluk yang berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, mereka menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, namun di sisi lain juga terdampak serangan balasan dari Iran.
Sejumlah negara di kawasan tersebut telah mengalami serangan drone dan rudal sejak konflik pecah, di tengah peran mereka sebagai mitra keamanan Washington.
Sementara itu, Turki yang menjalin hubungan dengan Iran maupun negara-negara Barat terus mendorong deeskalasi. Ankara juga memperingatkan bahwa penggunaan wilayah negara ketiga untuk operasi militer berpotensi memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (ANTARA/Xinhua) (Antara)