Trump Pertimbangkan Minta Negara Arab Biayai Perang AS Melawan Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Mar 2026, 16:43
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Arsip - Presiden AS Donald Trump berbicara dengan Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman saat KTT G20 di Osaka, Jepang, 28 Juni 2019. (ANTARA/REUTERS/Kevin Lamarque/aa) Arsip - Presiden AS Donald Trump berbicara dengan Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman saat KTT G20 di Osaka, Jepang, 28 Juni 2019. (ANTARA/REUTERS/Kevin Lamarque/aa) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Gedung Putih memberi sinyal kuat bahwa Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan langkah kontroversial: meminta negara-negara Arab ikut menanggung biaya perang Amerika Serikat melawan Iran yang nilainya diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar.

Pernyataan ini muncul dari Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan skema pendanaan seperti yang pernah terjadi pada Perang Teluk 1990. Kala itu, sekutu-sekutu Washington ikut membantu membiayai operasi militer AS di kawasan Timur Tengah.

“Saya pikir itu adalah sesuatu yang akan sangat menarik bagi presiden untuk meminta mereka melakukannya,” kata Leavitt kepada wartawan pada Senin (30/3/2026).

Ia menegaskan belum bisa memastikan keputusan akhir presiden, namun memberi isyarat bahwa gagasan tersebut memang sedang dipertimbangkan di lingkaran pemerintahan.

Baca Juga: Pramono: Zebra Cross Itu Kan Juga Ada Aturan Mainnya

“Saya tidak akan mendahului beliau (Trump) dalam hal itu, tetapi tentu saja itu adalah ide yang saya tahu beliau miliki, dan sesuatu yang saya pikir Anda akan mendengar lebih banyak darinya.”

Mengacu pada pengalaman masa lalu, Amerika Serikat pernah memimpin koalisi internasional besar untuk mengusir invasi Irak ke Kuwait. Dalam operasi tersebut, negara-negara Arab bersama mitra seperti Jerman dan Jepang mengumpulkan sekitar USD54 miliar guna membantu menutup biaya militer AS.

Namun situasi saat ini berbeda. Konflik dengan Iran dijalankan oleh AS bersama Israel tanpa keterlibatan formal negara-negara kawasan maupun koalisi luas seperti sebelumnya. Kondisi ini membuat wacana pembagian biaya menjadi lebih sensitif secara politik dan diplomatik.

Di sisi lain, Iran justru mengambil posisi berlawanan. Teheran menuntut agar Amerika Serikat membayar kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan selama konflik sebagai salah satu syarat penghentian perang. Serangan balasan pun terus dilakukan, termasuk melalui rudal dan drone yang menyasar aset AS dan Israel di berbagai titik Timur Tengah.

Baca Juga: Anggaran MBG Rp268 Triliun, BGN Tegaskan 93 Persen Langsung untuk Peningkatan Gizi

Biaya perang sendiri terus membengkak. Laporan media AS menyebutkan, dalam enam hari pertama konflik saja, pengeluaran sudah mencapai USD11,3 miliar. Angka ini meningkat menjadi USD16,5 miliar pada hari ke-12 menurut Pusat Studi Strategis dan Internasional, dan diperkirakan jauh lebih besar setelah perang memasuki hari ke-31.

Pemerintahan Trump bahkan telah mengajukan tambahan anggaran militer setidaknya USD200 miliar kepada Kongres untuk mendukung operasi di Iran sekaligus mengisi ulang persediaan amunisi Pentagon.

Dampak ekonomi dari konflik juga mulai terasa luas. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mendorong lonjakan harga energi global. Di dalam negeri AS, harga bensin rata-rata kini mencapai USD3,99 per galon, naik lebih dari USD1 dibandingkan sebelum perang dimulai.

Meski demikian, Gedung Putih berupaya meredam kekhawatiran publik. Leavitt menegaskan bahwa kenaikan harga tersebut bersifat sementara dan merupakan konsekuensi dari tujuan strategis yang lebih besar.

“Pesan keseluruhannya, seperti yang telah kami nyatakan berulang kali: Ini adalah tindakan jangka pendek dan fluktuasi harga jangka pendek untuk manfaat jangka panjang dalam mengakhiri ancaman yang ditimbulkan Iran terhadap Amerika Serikat, pasukan kita, dan sekutu kita di kawasan ini,” katanya kepada wartawan.

Sementara itu, Iran menolak narasi tersebut. Pemerintahnya menegaskan bahwa mereka menjadi pihak yang diserang di tengah berlangsungnya pembicaraan diplomatik, serta menyangkal adanya ancaman terhadap Amerika Serikat maupun stabilitas kawasan.

x|close