Ntvnews.id, Jakarta - Keputusan mengejutkan datang dari Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, yang dilaporkan meminta Kepala Staf Angkatan Darat AS, Randy George, untuk segera mengundurkan diri atau memasuki masa pensiun. Informasi ini pertama kali mencuat dari seorang pejabat Pentagon dan langsung memicu perhatian luas terkait arah kebijakan militer AS.
Juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, kemudian mengonfirmasi bahwa George resmi pensiun dari jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat ke-41. Dalam pernyataan resminya di platform X, ia menyebut bahwa dia akan segera mengundurkan diri.
"Jenderal Randy A. George akan pensiun dari jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat ke-41 yang berlaku segera. Departemen Perang berterima kasih atas pengabdian Jenderal George selama puluhan tahun kepada bangsa kita," ujarnya, dilansir CNN.
Laporan awal mengenai pencopotan ini sebelumnya diungkap oleh CBS News
Baca Juga: Pemuda Tewas Tenggelam di Pantai Malang
Langkah tegas Hegseth ini terjadi hanya sehari setelah Presiden Donald Trump menyampaikan pidato terkait konflik dengan Iran. Dalam pernyataannya, Trump mengisyaratkan peningkatan intensitas serangan militer terhadap Iran, meskipun sebelumnya sempat membuka kemungkinan penghentian perang dalam waktu dua hingga tiga minggu. Situasi ini menandakan adanya pergeseran pendekatan yang lebih agresif dalam kebijakan keamanan nasional AS.
Di internal Pentagon, George diketahui memiliki hubungan kerja yang erat dengan Menteri Angkatan Darat, Dan Driscoll. Sosok Driscoll disebut sebagai figur yang dekat dengan Gedung Putih, namun juga dinilai oleh Hegseth sebagai potensi ancaman dalam dinamika kekuasaan internal. Sejak menjabat, Hegseth memang telah mengambil sejumlah langkah signifikan dengan mencopot beberapa perwira tinggi militer lainnya.
Secara karier, George merupakan perwira infanteri yang telah mengabdi sejak lulus dari Akademi Militer AS di West Point pada 1988. Ia mulai menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat sejak September 2023. Sebelumnya, ia pernah memimpin I Corps di Pangkalan Bersama Lewis-McChord, serta menjadi asisten militer senior untuk Menteri Pertahanan Lloyd Austin pada era pemerintahan sebelumnya.
Pasca pengunduran diri George, perhatian kini tertuju pada sosok penggantinya. Nama Chris LaNeve mencuat sebagai kandidat kuat. Hegseth sendiri telah lebih dulu menunjuk LaNeve sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, yang membuka peluang baginya untuk menjabat sebagai pelaksana tugas dalam waktu dekat.
LaNeve bukan sosok asing bagi Hegseth. Ia pernah menjadi asisten militer bagi sang Menteri Pertahanan, yang menunjukkan adanya kedekatan profesional di antara keduanya. Karier militernya dimulai sejak 1990 setelah menyelesaikan pendidikan melalui program ROTC Universitas Arizona. Ia juga sempat menjabat sebagai komandan Angkatan Darat ke-8 di Korea Selatan, serta memimpin Divisi Lintas Udara ke-82 di Fort Bragg, Carolina Utara.
Baca Juga: Detik-detik Mobil Tertabrak KRL di Underpass Soleh Iskandar Bogor, Kereta Sampai Terhenti
Meski masa jabatannya di Divisi Lintas Udara ke-82 terbilang lebih singkat dari biasanya, LaNeve kemudian dipercaya mengemban peran strategis lainnya, termasuk sebagai asisten khusus bagi Komandan Komando Pasukan Angkatan Darat AS, sebelum akhirnya kembali ditempatkan di kawasan Asia Timur.
Kedekatan LaNeve dengan Presiden Trump juga sempat terlihat dalam sebuah momen simbolik. Dalam sebuah panggilan video ke acara Commander in Chief's Ball dari Korea Selatan, ia menyampaikan ucapan langsung kepada Trump:
"Pak, atas nama pria dan wanita pemberani yang bertugas di bawah komando saya dan ribuan anggota layanan yang berdedikasi yang merupakan bagian dari tim gabungan di Korea, selamat atas kemenangan Anda sebagai Presiden Amerika Serikat ke-47," kata LaNeve dalam panggilan video tersebut.
"Selamat datang kembali, Pak Presiden."
Trump pun merespons dengan pujian terbuka terhadap LaNeve, menyebut, "Apakah pria ini terlihat seperti tokoh film (central casting) atau bagaimana?"
"Mereka tidak akan main-main dengan Anda. Itu bagus," tambah Trump.
"Saya senang melihat itu. Tidak ada yang berani main-main dengan pria itu."
Dengan dinamika yang berkembang cepat, langkah Hegseth ini dinilai sebagai bagian dari konsolidasi kekuatan di tubuh militer AS, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Arsip - Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth. (Antara)