Ntvnews.id, Doha - Qatar dilaporkan menolak permintaan Amerika Serikat untuk menjadi mediator utama dalam potensi kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Penolakan ini terungkap dalam laporan The Wall Street Journal yang mengutip pejabat dan mediator, Minggu, 5 April 2026.
Media tersebut juga menyebut bahwa berbagai upaya negara-negara di kawasan untuk mendorong gencatan senjata antara AS dan Iran mengalami kebuntuan.
Iran dilaporkan telah memberi tahu para mediator bahwa mereka tidak bersedia bertemu dengan pejabat Amerika di Pakistan dalam waktu dekat. Sikap ini diambil karena Teheran menilai tuntutan Washington tidak dapat diterima.
Kepala misi diplomatik Iran di Kairo, Mojtaba Ferdosipour, menyatakan kepada RIA Novosti bahwa Iran hanya bersedia menyetujui penghentian perang secara menyeluruh dan menolak opsi gencatan senjata sementara.
Baca Juga: Menlu: Negara Berduka, Tiga Kusuma Bangsa Gugur dalam Misi Perdamaian di Lebanon
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, pada Rabu, 1 April 2026, membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Teheran telah meminta gencatan senjata.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak akhir Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan serta korban sipil.
Sebagai balasan, Iran menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik AS di Timur Tengah. Eskalasi konflik ini juga memicu blokade de facto di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia ke pasar global, sehingga berdampak pada kenaikan harga energi dunia.
Ilustrasi - Pemandangan gedung bertingkat di Doha, Qatar. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)