Xi Jinping dan Ketua Partai KMT Taiwan Bahas Unifikasi dalam Pertemuan Perdana Setelah Satu Dekade

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Apr 2026, 19:45
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Presiden China Xi Jinping bertemu dengan Ketua Partai Kuomintang (KMT) Taiwan Cheng Li-wun pada Jumat (10/4/2026) di Beijing. ANTARA/HO-Xinhua. Presiden China Xi Jinping bertemu dengan Ketua Partai Kuomintang (KMT) Taiwan Cheng Li-wun pada Jumat (10/4/2026) di Beijing. ANTARA/HO-Xinhua. (Antara)

Ntvnews.id, Beijing - Presiden China Xi Jinping bertemu Ketua Partai Kuomintang (KMT) Taiwan Cheng Li-wun di Beijing pada Jumat, 10 April 2026, dengan isu unifikasi menjadi salah satu topik utama pembahasan.

"Presiden Xi Jinping menekankan bahwa apa pun perubahan dalam dunia internasional maupun situasi di Selat Taiwan, tren kebangkitan besar bangsa China tidak akan berubah, dan arus besar semakin menyatukan hubungan antar masyarakat di kedua sisi Selat juga tidak akan berubah," demikian disebutkan dalam laman media pemerintah China yang diakses di Beijing, Jumat, 10 April 2026.

Sebelum bertemu Xi di Beijing, Cheng lebih dulu mengunjungi Shanghai pada 8–9 April 2026 untuk melihat perkembangan teknologi dan industri di kota tersebut. Pertemuan ini menjadi momen penting karena merupakan pertemuan pertama antara pemimpin Partai Komunis China (PKC) dan KMT dalam satu dekade terakhir.

Dalam pertemuan itu, Xi menegaskan kedekatan historis antara masyarakat di kedua sisi Selat Taiwan.

"Rakyat di kedua sisi Selat Taiwan sama-sama merupakan bagian dari bangsa China. Termasuk masyarakat Taiwan, berbagai kelompok etnis bersama-sama membentuk negara multietnis yang bersatu, bersama-sama menulis sejarah China yang gemilang, menciptakan peradaban China yang cemerlang, serta membentuk semangat bangsa yang besar," ungkap Xi Jinping.

Baca Juga: 100 Ribu Penerima dari Indonesia, Palestina, Uganda dan Taiwan Kini Bahagia

Ia juga menekankan adanya keyakinan bersama terkait persatuan wilayah dan bangsa.

"Masyarakat di kedua sisi Selat mengharapkan perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan, perbaikan dan perkembangan hubungan lintas Selat, serta kehidupan yang lebih baik. Ini merupakan tanggung jawab yang tidak dapat dihindari oleh kedua partai, sekaligus menjadi pendorong kerja sama bersama," tambah Xi Jinping.

Pemerintah China, lanjut Xi, tetap berpegang pada prinsip "Konsensus 1992" serta menolak kemerdekaan Taiwan.

"Bersama berbagai partai politik, kelompok, dan tokoh masyarakat Taiwan, termasuk Kuomintang, kami ingin memperkuat pertukaran dan dialog, demi mewujudkan perdamaian lintas Selat, kesejahteraan masyarakat, dan kebangkitan bangsa, serta memastikan masa depan hubungan lintas Selat berada di tangan rakyat China sendiri," jelas Xi Jinping.

Dalam pemaparannya, Xi juga menyampaikan empat poin utama terkait hubungan lintas Selat.

"Pertama, berpegang pada identitas yang benar untuk mempererat kesatuan. Masyarakat di kedua sisi Selat memiliki akar yang sama, budaya yang sama, serta hubungan darah yang erat, dan merupakan komunitas dengan masa depan bersama," ungkap Xi Jinping.

"Kedua partai serta masyarakat di kedua sisi Selat harus berpegang pada posisi nasional, mewarisi dan mengembangkan budaya Tiongkok, serta memperkuat identitas terhadap bangsa, budaya, dan negara, sehingga menumbuhkan rasa percaya diri dan kebanggaan sebagai orang China," tambah Xi Jinping.

"Ketiga, berpegang pada dialog dan integrasi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pemerintah China akan terus berpegang pada prinsip 'satu keluarga lintas Selat' dan secara aktif memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Taiwan," kata Xi.

Baca Juga: Pemimpin Oposisi Taiwan Akan Temui Xi Jinping, Kunjungan Pertama dalam Satu Dekade

"Keempat, berpegang pada persatuan dan perjuangan untuk mewujudkan kebangkitan besar bangsa China. Akan semakin banyak masyarakat Taiwan yang memahami sistem sosial dan jalur pembangunan daratan, serta menyadari bahwa masa depan Taiwan terkait dengan kebangkitan bangsa China," ungkap Xi.

Sementara itu, Cheng Li-wun menyampaikan pandangan serupa mengenai kedekatan kedua pihak.

"Karena itu, kedua pihak seharusnya bekerja sama dan harus berpegang pada 'Konsensus 1992' dan menentang 'kemerdekaan Taiwan', memperkuat kepercayaan politik, memanfaatkan media komunikasi, menjaga sejarah dan budaya China, serta mendorong kerja sama di berbagai bidang dan mendorong pembangunan damai hubungan lintas Selat," kata Chen dalam pemberitaan tersebut.

Kunjungan Cheng juga terjadi menjelang pemilihan lokal di Taiwan pada akhir tahun ini, yang diperkirakan berdampak pada kontestasi pemilihan presiden 2028. Ia diketahui terpilih sebagai ketua KMT pada akhir 2025, di tengah dominasi partai tersebut di parlemen Taiwan.

Di sisi lain, dinamika politik Taiwan juga diwarnai sikap KMT yang sebelumnya menolak anggaran pertahanan senilai 57 miliar dolar AS. Sementara itu, pemerintah China menyebut pemimpin Taiwan saat ini, Lai Ching-te, sebagai pihak yang mendorong agenda “kemerdekaan Taiwan”.

(Sumber: Antara)

x|close