Ntvnews.id, Taheran - Otoritas Iran dilaporkan telah mengeksekusi sedikitnya 1.639 orang sepanjang tahun 2025. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dalam tiga dekade terakhir, atau sejak 1989.
Dilansir dari AFP, Selasa, 14 April 2026, Data itu diungkap oleh kelompok hak asasi manusia Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia dan Together Against the Death Penalty (ECPM) dari Prancis melalui laporan tahunan bersama mereka.
Dalam laporan tersebut, kedua organisasi memperingatkan bahwa Teheran berpotensi memperluas penggunaan hukuman mati, terutama setelah gelombang protes antipemerintah pada Januari lalu serta konflik yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel.
Berdasarkan laporan itu, angka eksekusi pada 2025 meningkat 68 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 975 kasus. Dari total tersebut, terdapat 48 perempuan yang turut dieksekusi dengan cara digantung.
IHR dan ECPM juga mengingatkan bahwa Iran "bertahan dari krisis saat ini, ada risiko serius bahwa eksekusi akan digunakan secara lebih luas lagi sebagai alat penindasan dan represi".
Baca Juga: Pengiriman di Selat Hormuz Terhenti Total Usai Blokade AS Terhadap Iran
IHR, yang menerapkan verifikasi melalui minimal dua sumber untuk memastikan setiap kasus—karena banyak eksekusi tidak diumumkan secara resmi oleh pemerintah Iran—menyebut angka tersebut sebagai "minimum absolut" dari jumlah eksekusi sepanjang tahun 2025.
Jika dirata-rata, angka tersebut setara dengan lebih dari empat eksekusi setiap hari.
Laporan tahunan itu menegaskan bahwa jumlah tersebut merupakan yang tertinggi sejak IHR mulai melakukan pencatatan pada 2008, sekaligus menjadi yang paling besar sejak periode awal pascarevolusi Islam pada 1989.
Kedua lembaga HAM itu juga memperingatkan bahwa "ratusan demonstran yang ditahan tetap berisiko dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi mati" setelah didakwa atas pelanggaran berat terkait aksi protes Januari, yang dibubarkan dengan tindakan keras pemerintah hingga menewaskan ribuan orang dan menyebabkan puluhan ribu lainnya ditangkap.
Ilustrasi - Unit angkatan laut Iran dan Rusia melakukan simulasi penyelamatan kapal dalam latihan gabungan di Pelabuhan Bandar Abbas dekat Selat Hormuz di Hormozgan, Iran, pada Kamis (19/2/2026). (ANTARA/Latihan Gabungan Militer Angkatan Laut/Tentara (Antara)
Direktur IHR Mahmood Amiry-Moghaddam menilai kebijakan tersebut digunakan untuk menekan potensi perlawanan publik.
"Dengan menciptakan rasa takut melalui rata-rata empat hingga lima eksekusi mati per hari pada tahun 2025, pemerintah mencoba untuk mencegah aksi protes baru dan memperpanjang kekuasaan mereka yang runtuh," kata Mahmood.
Di tengah konflik dengan AS dan Israel, Iran juga dilaporkan mengeksekusi tujuh orang terkait aksi protes Januari. Enam di antaranya dijatuhi hukuman mati karena diduga menjadi anggota kelompok oposisi terlarang Mujahidin Rakyat Iran (MEK), sementara satu lainnya merupakan warga negara Iran-Swedia yang dituduh melakukan spionase untuk Israel.
Baca Juga: Pakistan Kirim Jet Tempur ke Arab Saudi di Tengah Ketegangan AS-Iran
Sementara itu, Direktur Eksekutif ECPM Raphael Chenuil-Hazan menegaskan bahwa praktik hukuman mati di Iran kerap dijadikan alat politik.
"Hukuman mati di Iran digunakan sebagai alat politik penindasan dan represi, dengan minoritas etnis dan kelompok marginal lainnya secara tidak proporsional terwakili di antara mereka yang dieksekusi mati," ujarnya.
Ilustrasi - Bendera Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)