Pakar Ingatkan Stok Rudal AS Menipis Usai Serangan ke Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Apr 2026, 06:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Rudal melintas di atas Yerusalem saat Iran menyerang Israel, Jumat (13/6/2025). (ANTARA/Xinhua/Chen Junqing) Rudal melintas di atas Yerusalem saat Iran menyerang Israel, Jumat (13/6/2025). (ANTARA/Xinhua/Chen Junqing) (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut telah menghabiskan sekitar separuh persediaan rudal milik negaranya dalam operasi militer terhadap Iran.

Pakar pertahanan dari Center for Strategic and International Studies, Mark F Cancian dan Chris H Park, memperingatkan bahwa menipisnya stok tersebut dapat meningkatkan kerentanan Amerika Serikat jika harus menghadapi konflik dengan negara kuat lain, termasuk China.

Dalam operasi militer yang dikenal sebagai Operation Epic Fury, AS menggunakan berbagai jenis rudal andalan seperti Tomahawk missile, Patriot missile system, JASSM, serta THAAD.

Berdasarkan analisis terhadap tujuh jenis rudal utama yang digunakan Pentagon, disebutkan bahwa AS masih memiliki cadangan untuk melanjutkan konflik.

"(Namun) Risikonya terletak pada perang di masa depan yang akan terus berlanjut selama bertahun-tahun," demikian tulis dari Mark Cancian dan Park dalam laporan CSIS.

Baca Juga: Tim SAR Potong Gerbong Evakuasi Penumpang KRL Terjepit usai Tabrakan

Keduanya menyusun analisis berdasarkan penggunaan rudal selama 39 hari konflik antara Washington dan Teheran sebelum tercapainya gencatan senjata. Mereka memperkirakan lebih dari setengah stok rudal tersebut telah terpakai.

"Membangun kembali persediaan hingga tingkat sebelum perang untuk ketujuh amunisi tersebut akan memakan waktu satu hingga empat tahun seiring dengan pengiriman rudal yang sedang dalam proses produksi," tulis Cancian dan Park.

"Rudal-rudal ini juga akan sangat penting untuk potensi konflik di Pasifik Barat," papar mereka.

Bahkan sebelum konflik dengan Iran, kedua analis tersebut menilai persediaan senjata AS sudah belum memadai untuk menghadapi negara pesaing dengan kekuatan setara.

Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada pers di Washington DC. ANTARA/Anadolu Ajensi/pri. <b>(Antara)</b> Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada pers di Washington DC. ANTARA/Anadolu Ajensi/pri. (Antara)

"Kekurangan itu kini semakin akut dan membangun persediaan hingga tingkat yang memadai untuk perang dengan China akan membutuhkan waktu tambahan," tulis Cancian dan Park.

Selain itu, berkurangnya stok rudal juga diperkirakan berdampak pada suplai sistem pertahanan seperti Patriot, THAAD, serta rudal presisi lainnya kepada Ukraina dan sekutu AS lainnya.

Dalam situasi ini, Amerika Serikat juga diprediksi akan menghadapi persaingan ketat dengan negara-negara lain yang turut meningkatkan dan memperluas persediaan rudal mereka.

x|close