AS Akui Belum Punya Sistem Penangkal Rudal Hipersonik Rusia dan China

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Apr 2026, 06:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Rudal yang diluncurkan dari Iran menuju Israel terlihat di atas Hebron, Palestina. (ANTARA/Anadolu/as) Ilustrasi - Rudal yang diluncurkan dari Iran menuju Israel terlihat di atas Hebron, Palestina. (ANTARA/Anadolu/as) (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Pemerintah Amerika Serikat secara terang-terangan mengakui belum memiliki sistem pertahanan udara yang mampu menghadang rudal hipersonik milik Rusia dan China.

Dilansir dari SCMP, Kamis, 30 April 2026, pengakuan tersebut disampaikan Asisten Sekretaris Pertahanan untuk Kebijakan Pertahanan Rudal dan Pencegahan, Marc Berkowitz, di hadapan Kongres AS.

Pernyataan Berkowitz itu disampaikan sebagai bagian dari upaya mendorong Kongres menyetujui proyek pertahanan baru pemerintahan Presiden AS Donald Trump berupa sistem pertahanan mutakhir bernama Golden Dome.

Program Golden Dome diklaim dirancang untuk mampu mencegat rudal hipersonik. Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan dana hingga US$185 miliar atau sekitar Rp3.212 triliun, menjadikannya salah satu proyek pertahanan terbesar AS.

Baca Juga: Pakar Ingatkan Stok Rudal AS Menipis Usai Serangan ke Iran

"Golden Dome akan memperkuat pencegahan dengan mematahkan kemampuan musuh-musuh untuk mencapai tujuan mereka melalui kekerasan dan agresi," ujar Berkowitz.

Trump diketahui tengah berupaya memperkuat kapasitas militer AS melalui pengajuan anggaran besar, termasuk pembangunan sistem pertahanan udara berbasis luar angkasa Golden Dome yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2029.

Pada awalnya, proyek tersebut diperkirakan menelan biaya sekitar US$175 miliar hingga 2035. Namun, Angkatan Luar Angkasa AS bulan lalu menaikkan estimasi kebutuhan dana sebesar US$10 miliar tambahan.

Arsip foto - Rudal melintas di atas Yerusalem dalam serangan yang diluncurkan Iran ke Israel (13/6/2025). (ANTARA FOTO/Xinhua/Chen Junqing/tom/am.) <b>(Antara)</b> Arsip foto - Rudal melintas di atas Yerusalem dalam serangan yang diluncurkan Iran ke Israel (13/6/2025). (ANTARA FOTO/Xinhua/Chen Junqing/tom/am.) (Antara)

"Kita tidak memiliki pertahanan terhadap senjata hipersonik atau rudal jelajah saat ini, [atau] rudal jelajah canggih," kata Berkowitz saat menjelaskan urgensi proyek yang menuai kontroversi tersebut.

"China adalah pesaing utama kita. Kita akan mencegah China dengan pertahanan pencegahan di sepanjang rantai pulau terluar," tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, sejumlah saksi lain juga menyinggung perkembangan pesat persenjataan rudal milik China dan Rusia.

Baca Juga: Langit Malang Heboh! Penampakan Benda Bercahaya Dikira Rudal, BMKG Bilang Begini

Tahun lalu, pemerintah China sempat memperingatkan bahwa rencana Washington tersebut berpotensi memicu perlombaan senjata baru dan dapat "mengubah ruang angkasa menjadi medan perang."

Beijing bahkan menilai Amerika Serikat sebagai negara yang "terobsesi dengan mengejar keamanan absolut."

x|close