Ntvnews.id, Jakarta - Di tengah percepatan transisi energi nasional, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memahami industri panas bumi terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 23,7 GW dengan kapasitas terpasang yang telah melampaui 2,7 GW. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kapasitas panas bumi terbesar kedua di dunia.
Potensi yang besar itu turut membuka peluang kerja yang semakin luas di sektor energi terbarukan. Di sisi lain, kondisi tersebut juga menuntut hadirnya tenaga profesional yang memiliki pemahaman mendalam mengenai karakteristik industri panas bumi.
Sebagai upaya menjawab kebutuhan tersebut, Fakultas Teknologi Eksplorasi dan Produksi (FTEP) Universitas Pertamina berkolaborasi dengan Geoenergis menggelar Geothermal Training bertema "Kickstart Your Geothermal Career: Understanding the Geothermal Industry" pada Sabtu, 13 Juni 2026, di Gedung Modular Universitas Pertamina.
Sebanyak 66 peserta mengikuti pelatihan tersebut. Mereka berasal dari Program Studi Teknik Geofisika, Teknik Geologi, dan Teknik Perminyakan Universitas Pertamina, serta diikuti dosen dan perwakilan dari industri energi.
Pelatihan ini memberikan pemahaman menyeluruh mengenai industri panas bumi, mulai dari tahapan eksplorasi, pengeboran, pengembangan lapangan, hingga pelaksanaan proyek. Selain materi teknis, peserta juga memperoleh wawasan mengenai tantangan pengembangan proyek, kompetensi yang dibutuhkan di dunia profesional, serta prospek karier pada sektor energi terbarukan.
Baca Juga: Universitas Pertamina Kembangkan AI BiCaps-DBP untuk Percepat Riset Protein DNA
Seluruh materi disampaikan oleh praktisi Geoenergis yang telah berpengalaman dalam pengembangan proyek panas bumi. Melalui sesi diskusi interaktif, peserta mendapat kesempatan berdialog langsung dengan para profesional mengenai kondisi kerja di lapangan, budaya industri, serta kemampuan yang diperlukan untuk berkarier di bidang tersebut.
Senior Geologist Geoenergis, Vicky Rai Chandra, mengatakan bahwa pemahaman mengenai industri panas bumi perlu ditanamkan sejak mahasiswa masih menjalani pendidikan agar mampu beradaptasi dengan perkembangan sektor energi.
“Industri panas bumi membutuhkan kolaborasi berbagai disiplin ilmu, mulai dari geologi, geofisika, hingga teknik perminyakan. Oleh sebab itu, mahasiswa perlu memahami proses bisnis dan aspek teknis sejak dini agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri yang terus berkembang. Dengan bekal tersebut, lulusan tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu berkontribusi dalam pengembangan energi panas bumi di Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Dosen Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pertamina, Sari Widyanti, M.En., menilai pelatihan tersebut memberikan sudut pandang yang lebih luas kepada mahasiswa mengenai pengembangan energi panas bumi, baik dari sisi teknologi, industri, sosial, maupun peluang karier.
“Kegiatan ini menjadi sebuah pendukung sekaligus pengenalan dari kondisi energi terbarukan khususnya bidang geothermal energy dari segi industri, sosial, dan karier,” jelas Sari.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai tahapan pengembangan proyek panas bumi, tetapi juga memperluas jejaring profesional dengan para praktisi yang aktif di industri. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi calon lulusan dalam menghadapi kebutuhan sektor energi yang terus berkembang seiring meningkatnya pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia.
Inisiatif yang dilakukan Universitas Pertamina ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, melalui penguatan kapasitas generasi muda agar dapat berkontribusi dalam pengembangan energi panas bumi serta mendukung transisi energi berkelanjutan di Indonesia.
Peserta Geothermal Training Universitas Pertamina dan Geoenergis berfoto bersama usai pelatihan