Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah tetap membidik pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4 persen sepanjang 2026 secara tahunan berjalan (year-to-date/ytd). Target tersebut sejalan dengan sasaran pertumbuhan ekonomi yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa target pertumbuhan pada kuartal IV 2026 masih dipertahankan pada angka tersebut. Pemerintah memperkirakan capaian itu tidak jauh berbeda dari pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2026.
"Jadi pertama untuk kuartal IV, pemerintah tetap menargetkan secara year-to-date 5,4 persen. Jadi kira-kira targetnya hampir sama dengan apa yang dicapai di kuartal III," kata Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 5 November 2026.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III 2026.
Berdasarkan data tersebut, Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp3.633,2 triliun. Sementara itu, PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat sebesar Rp6.741,0 triliun.
Baca Juga: Konsumsi Rumah Tangga Kuat, Penopang Pertumbuhan Ekonomi RI 5,47 Persen di Triwulan III-2026
Secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 1,59 persen dibandingkan kuartal II 2026. Adapun secara tahunan, pertumbuhannya mencapai 5,45 persen.
Airlangga menilai kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal III tahun ini menunjukkan hasil yang cukup baik. Menurutnya, pertumbuhan tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara anggota G20.
Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47 persen, melampaui China yang tumbuh 4,5 persen, Korea Selatan 3,4 persen, Jerman 1,2 persen, serta Jepang 0,7 persen. Sementara itu, India mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni mencapai 7,8 persen secara tahunan.
Airlangga menjelaskan, konsumsi rumah tangga masih menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada kuartal III 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen secara tahunan. Komponen tersebut juga menjadi penyumbang terbesar dari sisi pengeluaran dengan porsi 51,97 persen terhadap total PDB nasional.
Baca Juga: Program MBG dan KDKMP Turut Dorong Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal III-2026
Berdasarkan sumber pertumbuhan, konsumsi rumah tangga memberikan andil sebesar 2,62 persen dari total pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,47 persen.
Selain konsumsi rumah tangga, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi turut memberikan dukungan terhadap perekonomian. Komponen ini memiliki kontribusi sebesar 30,81 persen terhadap PDB dengan pertumbuhan mencapai 6,06 persen.
Peningkatan kinerja PMTB tersebut sejalan dengan realisasi investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang tercatat naik 7,59 persen.
Di sisi lain, konsumsi pemerintah mengalami pertumbuhan sebesar 8,95 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 5,66 persen.
Konsumsi pemerintah memberikan kontribusi sebesar 7,28 persen terhadap PDB. Peningkatan ini sejalan dengan bertambahnya realisasi belanja pegawai, terutama untuk pembayaran gaji dan tunjangan aparatur sipil negara (ASN).
Selain itu, realisasi belanja barang dan jasa juga meningkat, khususnya belanja barang yang disalurkan kepada masyarakat melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 5 November 2026 (Antara)