Purbaya: Indonesia Masih Aman dari Darurat Energi di Tengah Konflik Timur Tengah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Mar 2026, 17:15
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) di kantornya, Jakarta, Rabu (25/3/2026). ANTARA/Bayu Saputra/pri Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) di kantornya, Jakarta, Rabu (25/3/2026). ANTARA/Bayu Saputra/pri (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menilai Indonesia masih berada dalam kondisi aman dari potensi darurat energi meskipun eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus meningkat di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah pun memastikan belum ada perubahan pada postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 maupun kebijakan subsidi energi.

Purbaya menyampaikan bahwa APBN Indonesia masih cukup kuat untuk menahan tekanan kenaikan harga minyak global.

“APBN kita masih tahan. Saya enggak akan ubah APBN atau subsidi yang ada, sampai titik yang mungkin nanti harga minyaknya tinggi sekali,” ujar Purbaya di Jakarta, Rabu, 25 Maret 2026.

Ia menjelaskan bahwa kondisi darurat energi tidak hanya ditentukan oleh lonjakan harga minyak, tetapi lebih pada terganggunya pasokan energi.

Baca Juga: Pemerintah Tegaskan Tak Ingin Naikkan Batas Defisit APBN, Fokus pada Efisiensi dan Genjot Penerimaan Negara

Berkaca pada Filipina yang telah menetapkan status darurat energi nasional pada 24 Maret 2026 akibat krisis pasokan, Purbaya memastikan pasokan energi Indonesia masih aman.

“Darurat energi itu bukan di APBN. Maksudnya kalau suplainya berhenti, itu yang saya takut. Bukan harganya, tapi kalau suplainya nggak ada. Sekarang ini masih ada suplai, jadi belum bisa dibilang darurat,” jelasnya.

Pemerintah, lanjut dia, akan terus memantau perkembangan konflik global dan dampaknya terhadap rantai pasok energi, sembari menjaga kewaspadaan tanpa mengambil langkah kebijakan yang terlalu dini.

“Maksudnya darurat energi adalah kalau misalnya suplainya berhenti, itu yang saya takut. Bukan harganya, suplainya enggak ada. Ini kan masih ada suplainya. Jadi kalau bilang darurat enggak. Tapi kita harus siap-siap terus ke depan,” kata Purbaya.

Terkait subsidi BBM, Purbaya menegaskan belum ada rencana perubahan kebijakan dan pemerintah memilih menjaga stabilitas anggaran.

Baca Juga: Purbaya Pastikan Harga BBM Tidak Naik Meski Minyak Dunia Bergejolak: Uangnya Masih Cukup

Ia juga menyebut harga minyak mentah Indonesia (ICP) saat ini berada di kisaran 74 dolar AS per barel, sedikit di atas asumsi APBN sekitar 70 dolar AS per barel, namun masih dalam batas yang bisa dikelola.

“Setahu saya enggak ada (perubahan kebijakan). Jadi saya bilang, jangan diganggu dulu anggaran. Ini masih terlalu dini,” jelasnya.

“Iya (74 dolar AS per barel) sampai sekarang. Jadi kan melewati (asumsi APBN) 4 dolar kira-kira, kan? Itu yang dihitung. Nanti kalau naiknya ini (tinggi) baru kita hitung lagi berapa,” tambahnya.

(Sumber: Antara)

x|close