Rupiah Selasa Menguat Jadi Rp16.987 per Dolar AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Mar 2026, 10:41
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Mata uang Rupiah dan Dolar AS/ist Mata uang Rupiah dan Dolar AS/ist


Ntvnews.id
, Jakarta - Nilai tukar rupiah pada Selasa pagi 31 Maret 2026 menguat 15 poin atau 0,09 persen menjadi Rp16.987 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.002 per dolar AS.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan kurs rupiah dipengaruhi pernyataan dovish dari pejabat Federal Reserve (The Fed).

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul pernyataan dovish dari Kepala The Fed (Jerome) Powell dan pejabat The Fed William (Federal Reserve Bank of New York John C. Williams)," ucapnya, Selasa 31 Maret 2026.

Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp16.981 per Dolar AS di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia

Mengutip Anadolu, Powell disebut menyampaikan bahwa bank sentral AS tak melihat kebutuhan mendesak untuk menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap guncangan harga minyak baru-baru ini.

Alasannya ialah ekspektasi inflasi tetap terkendali dan pengetatan kebijakan yang dilakukan sekarang dapat membebani perekonomian di kemudian hari.

Powell menyampaikan Fed belum menghadapi titik bahwa mereka perlu menanggapi harga energi yang lebih tinggi dengan kenaikan suku bunga, karena para pembuat kebijakan masih belum mengetahui dampak ekonomi secara penuh dari perang Iran dan tekanan harga terkait tarif.

Harga minyak telah melonjak lebih dari 45 persen dalam sebulan pasca serangan AS-Zionis Israel terhadap infrastruktur minyak Iran dan Teluk, serta penutupan Selat Hormuz.

Karena itu, suku bunga Fed yang dipertahankan dalam kisaran 3,5-3,75 persen dinilai oleh Powell tetap pada posisi yang baik bagi pihaknya di tengah ketegangan geopolitik dan dampaknya terhadap inflasi.

Dirinya memperingatkan bahwa menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap guncangan pasokan minyak dapat terbukti kontraproduktif, karena kebijakan moneter bekerja dengan jeda waktu dan mungkin baru mulai menahan pertumbuhan pasca dampak kenaikan harga minyak telah mereda.

Baca juga: IHSG Jumat Dibuka Melemah ke 7.316, Rupiah Merosot Rp16.928 per Dolar AS

Adapun William menyinggung pasar tenaga kerja AS yang melemah. Lukman menerangkan bahwa pasar tenaga kerja dalam kondisi buruk, seperti tercatat pada bulan lalu bahwa perekonomian As kehilangan 92 ribu pekerjaan.

"Sebagai gambaran, untuk ekonomi AS, pertumbuhan pekerjaan yang ideal adalah minimal di atas 100 ribu hingga 15 ribu per bulan," ujar dia.
Di sisi lain, Lukman memperkirakan penguatan rupiah akan terbatas mengingat sentimen pasar umumnya masih negatif dan harga minyak masih naik.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp1.950-Rp17.050 per dolar AS. (Sumber:Antara)

x|close