Ntvnews.id, Tel Aviv - Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan titik terang setelah negosiasi lanjutan kedua negara kembali menemui jalan buntu.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa Washington bersama sekutunya, Israel, bersiap melanjutkan operasi militer terhadap Teheran.
Pejabat senior militer Iran, Mohammad Jafar Asadi, menilai kemungkinan pecahnya konflik baru antara Iran dan AS sangat terbuka.
"Konflik baru antara Iran dan Amerika Serikat kemungkinan terjadi," ujar Asadi dalam laporan media semi-pemerintah Iran Fars News yang dikutip dari AFP, Minggu, 3 Mei 2026.
Ia juga menuding Washington tidak memiliki komitmen terhadap kesepakatan internasional.
"Bukti sudah menunjukkan Amerika Serikat tak berkomitmen terhadap perjanjian atau kesepakatan apapun." jelasnya.
Baca Juga: Trump Bongkar Obrolan Pribadi dengan Raja Charles soal Iran, Pengamat Kerajaan Terkejut
Sebelumnya, Kepala Kehakiman Iran Gholamhossein Mohseni Ejei menyatakan Teheran tidak pernah menolak jalur diplomasi, namun juga tidak bersedia menerima syarat perdamaian yang dianggap sebagai bentuk pemaksaan.
Di pihak lain, Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz mengatakan pemerintah Israel mempertimbangkan kemungkinan kembali berperang dengan Iran dalam waktu dekat demi mencapai target strategis mereka.
Ia menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump terus melakukan koordinasi erat guna memastikan Iran tidak menjadi ancaman bagi kedua negara.
Arsip foto - Foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 menunjukkan kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh kapal cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Xinhua/HO-ISNA/Morteza Akhoundi/aa. (Antara)
"Kami mendukung upaya-upaya ini dan memberi dukungan yang diperlukan, tapi kami mungkin harus bertindak lagi untuk memastikan tujuan-tujuan itu tercapai," kata Katz dalam pidato promosi komandan Angkatan Udara baru, seperti dikutip Middle East Monitor.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump mengaku tidak puas terhadap proposal terbaru yang diajukan Teheran, meski ia tidak menjelaskan poin mana yang menjadi keberatan Washington.
Gedung Putih juga belum membeberkan detail proposal baru Iran. Namun, utusan khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff sebelumnya sempat mengajukan perubahan syarat agar program nuklir Iran kembali dibahas dalam meja perundingan.
Baca Juga: Iran Ancam AS, Sebut Babak Baru Perang Akan Jadi Bencana
Perubahan itu mencakup tuntutan agar Iran tidak memindahkan uranium yang telah diperkaya dari lokasi yang sebelumnya dibom, maupun melanjutkan aktivitas di lokasi tersebut selama proses negosiasi berlangsung.
AS dan Iran sempat menggelar pembicaraan damai di Islamabad pada pekan kedua April lalu, namun perundingan tersebut berakhir tanpa kesepakatan.
Pemerintahan Trump mendesak Iran menghentikan program nuklirnya dan menyerahkan uranium yang telah diperkaya, tetapi tuntutan tersebut ditolak tegas oleh Teheran.
Ilustrasi - Bendera Iran dan Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)