PBB: Serangan Terhadap Warga Sipil Lebanon Masih Terjadi Meski Gencatan Senjata

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Mei 2026, 14:10
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Gedung PBB di New York, Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu Agency/pri. Gedung PBB di New York, Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu Agency/pri. (Antara)

Ntvnews.id

PBB - Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan serangan terhadap warga sipil dan petugas garda depan di Lebanon masih terus terjadi meskipun gencatan senjata telah berlangsung hampir satu bulan.

Menurut laporan para pekerja kemanusiaan PBB pada Kamis, 14 Mei 2026, rentetan serangan drone terhadap kendaraan di wilayah Jiyeh, sekitar 20 kilometer di selatan Beirut, menewaskan sedikitnya delapan orang, termasuk dua anak-anak, pada Rabu, 13 Mei 2026.

OCHA mengutip data dari otoritas Lebanon yang menyebutkan bahwa sejak eskalasi serangan terbaru dimulai pada 2 Maret 2026, sedikitnya 2.896 orang tewas, termasuk 200 anak-anak, dan lebih dari 8.000 lainnya mengalami luka-luka.

Situasi keamanan yang terus memburuk juga menyebabkan jumlah pengungsi di Lebanon meningkat signifikan.

Baca Juga: Di Forum PBB, Menhut Sampaikan Penurunan Kebakaran Hutan hingga Pengakuan Hutan Adat

OCHA menyebut hampir 130 ribu warga kini berlindung di 632 lokasi penampungan kolektif yang tersebar di berbagai wilayah Lebanon.

Selain itu, perintah evakuasi baru juga telah diterbitkan untuk delapan desa di Lebanon selatan dan wilayah Kegubernuran Bekaa, sehingga memicu gelombang pengungsian lanjutan.

"Mitra kemanusiaan melaporkan baik keluarga yang baru mengungsi maupun mereka yang kembali ke tempat penampungan turut berkontribusi terhadap peningkatan jumlah pengungsi tersebut," papar OCHA.

"Ketidakamanan dan luasnya kerusakan terus menghambat proses kepulangan yang aman dan berkelanjutan bagi pengungsi," imbuh badan tersebut.

Baca Juga: Di PBB, Korut Tegaskan Tetap Pertahankan Senjata Nuklir

PBB juga menyoroti bahwa akses terhadap bantuan kemanusiaan dan distribusi pasokan penting masih memungkinkan, tetapi sangat terbatas, khususnya di wilayah Lebanon selatan.

Kerusakan jalan dan jembatan, keberadaan amunisi yang belum meledak, puing-puing konflik, serta kondisi keamanan yang belum stabil menjadi hambatan utama bagi mobilitas dan pemulihan layanan dasar masyarakat.

Meski demikian, sejak eskalasi konflik berlangsung, OCHA mencatat telah memfasilitasi 132 pergerakan bantuan kemanusiaan yang membawa berbagai kebutuhan penting bagi warga terdampak.

(Sumber: Antara)

x|close