Amirul Hajj Soroti Layanan di Mina, Jadi Fokus Perbaikan Penyelenggaraan Haji 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Jun 2026, 18:21
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf memimpin konferensi pers kepulangan Amirul Hajj di Bandara Soekarno Hatta, Banten, Senin (8/6/2026). ANTARA/Asep Firmansyah Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf memimpin konferensi pers kepulangan Amirul Hajj di Bandara Soekarno Hatta, Banten, Senin (8/6/2026). ANTARA/Asep Firmansyah (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Tim Amirul Hajj atau Pemimpin Misi Haji 2026 telah kembali ke Indonesia dengan sejumlah rekomendasi perbaikan layanan, terutama pada fase puncak ibadah haji di Mina yang dinilai masih menjadi titik paling kompleks dalam penyelenggaraan haji.

Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf mengatakan bahwa salah satu catatan utama tim Amirul Hajj adalah perlunya peningkatan layanan di Mina, mengingat keterbatasan ruang dan tingginya kepadatan jamaah dari berbagai negara.

“Beberapa rekomendasi yang disampaikan oleh tim dari Amirul Hajj adalah pertama, peningkatan layanan di Mina,” ujar Menhaj Irfan di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Senin, 8 Juni 2026.

Ia menjelaskan bahwa kondisi Mina memang menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan ibadah haji karena luas wilayahnya yang terbatas dibandingkan Arafah. Arafah memiliki luas sekitar 17 kilometer persegi, sedangkan Mina hanya sekitar 8–9 kilometer persegi, dan area yang benar-benar dapat digunakan bahkan lebih kecil karena sebagian berupa kawasan berbatu.

“Arafah di sekitar 17 km persegi, sementara Mina hanya sekitar 8-9 km persegi, itupun yang bisa digunakan karena sebagian gunung batu, tidak lebih dari 5 km persegi, sehingga ada kepadatan dari jumlah jamaah,” kata Menhaj Irfan.

Baca Juga: Wamen Haji: Angka Jamaah Wafat di Tanah Suci Turun Signifikan pada Musim Haji 2026

Selain isu kepadatan di Mina, Amirul Hajj juga memberikan rekomendasi terkait peningkatan ketepatan waktu layanan transportasi pada fase sebelum dan sesudah Armuzna, penguatan layanan akomodasi agar jamaah dapat lebih dekat dengan Masjidil Haram, serta penyempurnaan layanan konsumsi yang lebih adaptif terhadap kondisi di kawasan Timur Tengah.

Tim juga menyoroti pentingnya penyelarasan kualitas layanan antara petugas haji kloter dan non-kloter. Menurut Menhaj, evaluasi menunjukkan bahwa petugas yang mendapatkan pelatihan komprehensif memiliki kinerja layanan yang lebih optimal, sehingga standarisasi pelatihan menjadi fokus pembenahan ke depan.

Di sektor kesehatan, Amirul Hajj menekankan penguatan istitha’ah kesehatan, sistem penanganan jamaah sakit, serta ketersediaan tenaga medis. Aspek ini disebut akan menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan haji tahun mendatang.

“Kami ingin memastikan bahwa jamaah yang berangkat benar-benar memenuhi aspek istitha'ah kesehatan sehingga dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan baik dan aman,” ujarnya.

Baca Juga: Infografik: Debarkasi Haji 2026 Siap Sambut Kepulangan Jamaah dari Tanah Suci

Rekomendasi lain mencakup peningkatan fasilitas tenda dan sanitasi, pengurangan penggunaan plastik, penyempurnaan jadwal penyelenggaraan haji, hingga penguatan tata kelola kontrak layanan agar lebih transparan dan akuntabel.

Menhaj juga menyampaikan bahwa otoritas Arab Saudi memberikan apresiasi terhadap peningkatan kualitas penyelenggaraan haji Indonesia tahun ini, yang dinilai menunjukkan kemajuan signifikan dalam pelayanan jamaah.

“Berbagai catatan dan rekomendasi yang kami terima akan menjadi bekal penting untuk terus memperbaiki kualitas penyelenggaraan haji Indonesia,” kata Menhaj Irfan.

(Sumber: Antara)

x|close