Studi Ungkap Hal yang Jadi Pemicu Krisis Seks, Apa Itu?

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Jun 2026, 08:25
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi smartphone Ilustrasi smartphone (Pixabay)

Ntvnews.id, Jakarta - Sebuah penelitian terbaru mengungkap adanya hubungan yang kuat antara meningkatnya penggunaan ponsel pintar (smartphone) dengan penurunan angka kelahiran yang terjadi di berbagai negara. Temuan tersebut memunculkan dugaan bahwa perubahan pola hidup akibat teknologi digital turut memengaruhi keputusan masyarakat untuk memiliki anak.

Dilansir dari France24, Rabu, 17 Juni 2026, sebuah studi yang diterbitkan oleh Biro Riset Ekonomi Nasional atau National Bureau of Economic Research (NBER) meneliti penyebab merosotnya tingkat kesuburan di Amerika Serikat. Hasil penelitian menunjukkan angka kesuburan di Negeri Paman Sam turun hingga 22 persen sejak 2007, tahun yang sama ketika iPhone generasi pertama diperkenalkan dan menandai dimulainya era smartphone modern.

Para peneliti menegaskan bahwa smartphone tidak berdampak langsung terhadap kemampuan biologis seseorang untuk memiliki anak. Namun, perangkat tersebut dinilai mengubah pola interaksi sosial masyarakat secara signifikan. Intensitas penggunaan gawai yang semakin tinggi disebut mengurangi pertemuan tatap muka, menurunkan frekuensi aktivitas seksual, serta meningkatkan konsumsi hiburan digital yang menggantikan interaksi sosial di dunia nyata.

Sebelumnya, banyak kalangan mengaitkan penurunan angka kelahiran dengan krisis ekonomi global pada 2008 yang menyebabkan jutaan orang mengalami kesulitan finansial. Namun, ketika kondisi ekonomi kembali membaik, angka kelahiran tidak menunjukkan pemulihan yang signifikan.

Baca Juga: Menag Ajak Jadikan Tahun Baru Hijriah Sebagai Momentum Perubahan Diri dan Masyarakat

Sejumlah faktor lain juga pernah disebut sebagai penyebab, seperti meningkatnya penggunaan alat kontrasepsi, tingginya tingkat pendidikan perempuan, hingga melonjaknya biaya perumahan dan pengasuhan anak. Meski demikian, belum ada faktor tunggal yang secara pasti mampu menjelaskan fenomena tersebut.

Ekonom dari Middlebury College, Caitlin Myers, bersama mahasiswanya Ezekiel Hooper, kemudian menguji kemungkinan keterkaitan antara kehadiran smartphone dan penurunan tingkat kesuburan. Mereka memanfaatkan kondisi pada periode awal peluncuran iPhone yang hanya tersedia melalui jaringan operator AT&T di Amerika Serikat.

Penelitian tersebut membandingkan wilayah yang memiliki cakupan jaringan AT&T hampir menyeluruh dengan daerah yang memiliki akses sangat terbatas terhadap layanan tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa akses terhadap iPhone berkorelasi dengan penurunan angka kelahiran sebesar 4,5 hingga 8 persen pada kelompok usia 15-19 tahun dan 3,2 hingga 6,6 persen pada kelompok usia 20-24 tahun.

Penurunan juga ditemukan pada kelompok perempuan yang lebih tua, meskipun angkanya lebih kecil.

"Seiring dengan meluasnya penggunaan smartphone modern, waktu yang dihabiskan bersama teman secara langsung dan aktivitas seksual menurun tajam bersamaan dengan meningkatnya konsumsi pornografi, yang mungkin menjadi pengganti seks dengan pasangan," demikian kesimpulan penelitian tersebut.

Ilustrasi Berhubungan Seksual <b>(Preefik)</b> Ilustrasi Berhubungan Seksual (Preefik)

Temuan serupa juga muncul dalam studi lain yang dipublikasikan pada Mei lalu oleh ekonom Universitas Cincinnati, Nathan Hudson dan Hernan Moscoso Boedo. Mereka menganalisis data dari 128 negara berdasarkan tingkat penetrasi smartphone dan angka kesuburan remaja.

Hasil penelitian menunjukkan penurunan angka kelahiran semakin cepat setelah smartphone digunakan secara luas. Tren tersebut ditemukan di berbagai negara dengan kondisi ekonomi, budaya, sistem kesehatan, dan tingkat kesejahteraan yang berbeda-beda.

Para peneliti menyebut fenomena tersebut sebagai dampak dari “guncangan teknologi” global yang terjadi secara bersamaan di berbagai belahan dunia.

Meski demikian, tidak semua akademisi sepakat dengan kesimpulan tersebut. Sejumlah pakar mengingatkan bahwa angka kelahiran remaja di Amerika Serikat sebenarnya telah mengalami penurunan sejak awal 1990-an, jauh sebelum smartphone hadir.

Di tengah perdebatan tersebut, banyak negara kini menghadapi tantangan serius akibat rendahnya angka kelahiran. Kondisi tersebut menyebabkan populasi menua, jumlah tenaga kerja menyusut, serta meningkatkan tekanan terhadap sistem jaminan sosial dan pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: BEM Bersatu Tegaskan Tolak Intervensi Politik Praktis dalam Gerakan Mahasiswa

Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menunjukkan tingkat kesuburan negara itu kini berada pada titik terendah sepanjang sejarah. Sementara itu, sejumlah negara maju di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan China juga menghadapi ancaman penyusutan populasi dalam beberapa dekade mendatang.

China bahkan telah mengakhiri kebijakan satu anak pada 2016 untuk mendorong peningkatan angka kelahiran. Jepang dan Korea Selatan juga menggelontorkan anggaran besar untuk program pro-kelahiran, meskipun hasilnya masih terbatas.

Sementara negara-negara miskin di kawasan Afrika Sub-Sahara masih mencatat angka kelahiran tinggi, sejumlah negara berpendapatan menengah seperti India dan Brasil juga mulai mengalami penurunan tingkat kesuburan secara signifikan. Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan demografi akibat rendahnya angka kelahiran kini telah menjadi isu global yang semakin kompleks.

x|close