Indonesia Jajaki Ekspor Kakao dan CPO ke Belarus

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Jul 2026, 04:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Luar Negeri RI Sugiono menerima kunjungan kehormatan Menteri Luar Negeri Belarus, Maxim Ryzhenko, di Jakarta, Selasa, 30 Juni 2026 Menteri Luar Negeri RI Sugiono menerima kunjungan kehormatan Menteri Luar Negeri Belarus, Maxim Ryzhenko, di Jakarta, Selasa, 30 Juni 2026 (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah Indonesia membuka peluang untuk memperluas ekspor sejumlah komoditas pertanian, terutama kakao dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), ke Belarus. Pemerintah Belarus bahkan telah menyampaikan kebutuhan volume impor untuk masing-masing komoditas tersebut kepada Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Pembahasan mengenai potensi kerja sama tersebut dilakukan dalam pertemuan antara Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman dan Menteri Pertanian dan Pangan Republik Belarus, Yuri Gorglov. Salah satu komoditas yang menjadi perhatian utama adalah kakao, mengingat Belarus memiliki industri pengolahan cokelat yang memasok kebutuhan pasar domestik, kawasan Eropa Timur, hingga Rusia.

“Kami ingin memperluas pasar ekspor komoditas pertanian Indonesia ke Belarus. Hubungan yang semakin erat antara kedua negara harus memberikan manfaat nyata melalui peningkatan perdagangan yang saling menguntungkan,” kata Amran dalam keterangan tertulis dikutip Rabu, 1 Juli 2026.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah Belarus menyampaikan bahwa kebutuhan kakao mereka mencapai sekitar 120 ribu ton per tahun. Oleh karena itu, Belarus membuka peluang impor dari Indonesia sekaligus memberikan kesempatan bagi produk kakao nasional untuk memperluas akses pasar di kawasan tersebut.

Selain kakao, minyak sawit mentah atau CPO juga menjadi komoditas yang dibahas. Amran mengungkapkan bahwa Belarus memiliki kebutuhan CPO sekitar 14 ribu ton per tahun, sehingga Indonesia berupaya mendorong masuknya produk tersebut ke pasar Belarus.

“Kami juga mendorong ekspor CPO ke Belarus. Selama ini produk tersebut belum masuk ke pasar Belarus, padahal mereka telah menyampaikan kebutuhannya sekitar 14 ribu ton. Ini menjadi peluang yang harus segera kita tindak lanjuti agar perdagangan kedua negara semakin meningkat,” ujarnya.

Di luar kakao dan CPO, Indonesia juga menawarkan potensi ekspor komoditas pertanian lainnya, seperti kelapa dan teh. Menurut Amran, Belarus memiliki posisi strategis sebagai mitra dagang sekaligus pintu masuk bagi produk pertanian Indonesia menuju pasar Eropa Timur.

Baca Juga: Presiden Belarus Alexsander Lukashenko Tiba di Indonesia, Disambut Menhan Sjafrie Sambut

Pertemuan antara kedua menteri tersebut juga menghasilkan kesepakatan untuk memperkuat kerja sama di bidang teknologi pertanian, modernisasi irigasi, serta investasi di sektor pertanian.

Kerja sama tersebut nantinya akan difokuskan pada pengembangan mekanisasi pertanian, pembaruan sistem irigasi, pengelolaan sumber daya air, serta pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor pertanian di kedua negara.

“Belarus memiliki pengalaman dan teknologi yang dapat menjadi mitra strategis bagi Indonesia. Sementara Indonesia memiliki potensi besar di sektor pertanian. Kolaborasi ini harus mampu mempercepat modernisasi pertanian dan memperkuat ketahanan pangan kedua negara,” kata Amran.

Selain itu, Indonesia dan Belarus juga membahas peluang peningkatan kerja sama dalam perdagangan produk susu. Kerja sama tersebut diharapkan mampu menghasilkan produk susu yang lebih berkualitas dengan harga yang semakin kompetitif di pasar.

“Kami ingin setiap kerja sama yang dibangun memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik melalui peningkatan kualitas produk, harga yang lebih kompetitif, maupun terbukanya peluang ekonomi baru bagi kedua negara,” ujarnya.

x|close