Kementan Komitmen Lindungi Kakao, Sawit, Kopi dan Tembakau dari Regulasi yang Berpotensi Menghambat Daya Saing

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Jul 2026, 19:45
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
industri kelapa sawit di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menerapkan model ekonomi sirkular. industri kelapa sawit di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menerapkan model ekonomi sirkular.

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) menekankan pentingnya penguatan sektor perkebunan nasional melalui peningkatan produktivitas sekaligus penyusunan kebijakan yang mampu menjaga keberlanjutan komoditas strategis. Salah satu komoditas yang dinilai memiliki peran penting adalah tembakau karena berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja, pendapatan petani, devisa ekspor, hingga penerimaan negara.

Selain tembakau, komoditas unggulan lain seperti kelapa sawit, kopi, kakao, dan kelapa juga dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan devisa sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika pasar global.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil mengatakan pemerintah berkomitmen mengembalikan daya saing sektor perkebunan Indonesia melalui peningkatan produksi dan kualitas komoditas agar mampu bersaing di pasar internasional.

“Kita harus mulai menjadi pelaku utama dalam rantai perdagangan global. Pemerintah siap memberikan pendampingan, mulai dari peningkatan kualitas produk, pelatihan ekspor, market intelligence, hingga membantu mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli di luar negeri,” ujarnya dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Kondisi Sosial Ekonomi Perkebunan dan Hilirisasi Perkebunan Rakyat belum lama ini.

Baca Juga: Infografik: Kementan Pacu Produksi Bawang Putih untuk Kurangi Ketergantungan Impor

Ali menuturkan masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dibenahi, di antaranya penolakan ekspor akibat persoalan penanganan pascapanen dan kontaminasi zat tertentu. Karena itu, menurutnya, pembenahan tata kelola rantai pasok menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing komoditas perkebunan Indonesia di pasar global.

Ia juga menegaskan perlunya komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam memperbaiki sistem penyimpanan, pengemasan, serta distribusi komoditas perkebunan secara terintegrasi.

"Kita memiliki potensi yang sangat besar, baik dari sisi sumber daya alam maupun sumber daya manusia," ujarnya.

Dalam konteks tersebut, tembakau disebut sebagai salah satu komoditas strategis karena menjadi sumber penghidupan masyarakat di berbagai sentra produksi sekaligus bagian dari ekosistem ekonomi nasional yang melibatkan petani, tenaga kerja, pelaku usaha, hingga industri hilir yang berorientasi ekspor.

Baca Juga: Mentan Pecat ASN Kementan Terkait Dugaan Penyelewengan Anggaran Rp500 Juta

Ketua Harian III DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Andi Muhammad Syakir, mengatakan akses terhadap informasi dan teknologi perlu diperkuat agar posisi tawar petani dalam rantai pasok semakin meningkat.

"Petani membutuhkan informasi mengenai perkembangan pasar, harga komoditas, inovasi teknologi, hingga teknik budidaya yang semakin efisien,” katanya.

Selain itu, Andi menilai hilirisasi perlu terus dikembangkan agar Indonesia tidak hanya mengandalkan ekspor bahan baku mentah. Menurutnya, berbagai komoditas perkebunan, termasuk tembakau, memiliki potensi besar untuk menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

"Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang sangat besar pada berbagai komoditas perkebunan, seperti kelapa sawit, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, cengkih, dan tembakau,” kata Andi.

Baca Juga: Infografik: Tanam Serentak di Lahan Cetak Sawah, Kementan Kejar Swasembada Beras

Di sisi lain, kalangan petani berpandangan bahwa keberlangsungan sektor tembakau tidak hanya ditentukan oleh hasil produksi di tingkat lahan, tetapi juga dipengaruhi arah kebijakan pemerintah. Mereka menilai komoditas tembakau memiliki nilai ekonomi, sosial, budaya, dan sejarah yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sejumlah daerah sentra produksi.

Di tengah pembahasan sejumlah regulasi, termasuk wacana penyeragaman kemasan rokok serta pembatasan kadar nikotin dan tar, Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Mahmudi, mengatakan minat petani untuk menanam tembakau pada musim tanam tahun ini tetap tinggi. Kondisi musim kemarau yang dinilai mendukung membuat petani optimistis terhadap kualitas hasil panen, terlebih hasil produksi tembakau selama ini dinilai memiliki pasar yang stabil karena terserap industri.

"Selama ini, petani sering merasa hanya menjadi objek kebijakan tanpa dilibatkan secara langsung dalam proses penyusunannya. Padahal, merekalah yang akan merasakan dampak paling besar dari setiap perubahan regulasi,” jelas Mahmudi.

Menurut Mahmudi, setiap kebijakan yang berkaitan dengan sektor pertembakauan perlu memperhatikan keseimbangan antara upaya perlindungan kesehatan masyarakat dan keberlanjutan mata pencaharian petani. Ia juga menilai karakteristik tembakau lokal perlu dipertahankan karena menjadi salah satu kekuatan industri nasional yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari dalam negeri.

Berdasarkan data yang disampaikan, produk hasil hilirisasi tembakau turut memberikan kontribusi terhadap ekspor nasional. Pada 2024, nilai ekspor produk hasil tembakau mencapai US$1,7 miliar atau meningkat 21,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

x|close