Kepala BRIN Ingatkan Ilmuwan Bijak dalam Menyampaikan Informasi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Jul 2026, 13:55
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Tangkapan layar - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dalam Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset di Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026. Tangkapan layar - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dalam Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset di Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengajak para ilmuwan di Indonesia untuk lebih bijaksana saat menyampaikan informasi kepada masyarakat. Menurutnya, seorang ilmuwan tidak cukup hanya berpegang pada kebenaran data, tetapi juga harus mempertimbangkan konteks dalam menyampaikannya.

Pesan tersebut disampaikan Arif saat Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset di Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026. Ia menekankan bahwa kemampuan memahami dimensi ruang dan waktu menjadi bagian penting dalam menyampaikan ilmu pengetahuan.

"Kalau kita melihat pasangan kita, masak tidak enak misalnya. Itu sebuah kebenaran, benar enggak datanya? Benar. Bisa disampaikan dengan baik? Bisa. Tapi perlu enggak disampaikan dalam forum ini? Jadi perlu kadang-kadang orang bisa mengatakan sesuatu yang benar, iya. Tapi kadang-kadang itu tidak perlu disampaikan, karena perlu itu terkait dengan dimensi ruang dan waktu," katanya.

Arif menilai kemampuan memahami konteks tersebut merupakan hal yang membedakan ilmuwan dengan kecerdasan buatan (AI). Karena itu, ia menegaskan peran ilmuwan tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Baca JugaKepala BRIN: AI Tak Boleh Jadi Alat Manipulasi Data dan Pelanggaran Integritas Riset

Ia juga mengingatkan bahwa penyampaian informasi harus mempertimbangkan kepentingan yang lebih luas, termasuk institusi dan negara. "Bukan saja bicara benar, bukan saja bicara tentang sesuatu yang secara baik, tapi memahami mana yang perlu dan mana yang tidak perlu. Karena banyak profesor, mohon maaf, sering kali jarang (memperhatikan poin ini). Yang penting ada data, keluarkan, tapi tidak memahami konteks. Konteks kepentingan institusi, konteks kepentingan negara, bahkan banyak negara lain itu ancamannya ketika membocorkan sebuah rahasia teknologi tertentu, itu ancamannya adalah pembunuhan, itu fakta," ujar Arif.

Mantan Rektor IPB University itu kemudian mengajak para ilmuwan untuk terus mengembangkan diri melalui pembelajaran dan inovasi. Ia mengutip pernyataan Albert Einstein, "once you stop learning, you start dying (Sekali kamu berhenti belajar, artinya kamu sudah memulai kematian)."

Baca JugaKepala BRIN Minta Jajarannya Tingkatkan Kualitas Riset Proposal

Arif menambahkan bahwa kemampuan beradaptasi menjadi kunci menghadapi perubahan. "Kalau Charles Darwin mengatakan bahwa yang survive bukanlah yang terkuat, bukanlah yang terpintar, tapi yang responsif terhadap perubahan. Maka memahami perubahan, dan mempersiapkan diri untuk beradaptasi terhadap perubahan, atau bahkan menjadi pemimpin perubahan, itu memerlukan kemampuan kita sebagai seorang pembelajar sejati yang baik. Kalau kita tidak ingin menjadi dinosaurus, maka jadilah seorang pembelajar karena setiap perubahan memerlukan kita untuk terus beradaptasi," tutur Arif.

(Sumber: Antara)

x|close