Ntvnews.id, Washington D.C - Hubungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut mulai mengalami keretakan. Bahkan, Netanyahu diklaim tidak lagi mendapatkan perhatian yang sama dari Trump seperti sebelumnya.
Pernyataan tersebut disampaikan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak. Menurutnya, sikap Trump menunjukkan bahwa Presiden AS tersebut "tidak lagi" terlalu memperhatikan Netanyahu.
Barak menyoroti kerangka kesepakatan terbaru mengenai Jalur Gaza yang dinilainya justru mengesampingkan kepentingan Israel. Ia juga menyinggung keputusan Trump menghentikan rencana serangan terhadap Iran yang sebelumnya disebut akan dilakukan secara bersama oleh AS dan Israel.
"Bahasa dalam kesepakatan itu sangat ambigu, namun arah umumnya jelas. Israel dan tuntutannya telah diabaikan," kata Barak yang menjabat PM Israel periode 1999-2001 dalam wawancara dengan media Israel, KAN, seperti dilansir dari Middle East Monitor, Selasa, 4 Agustus 2026.
Menurut Barak, kerangka kesepakatan untuk Gaza tidak mengharuskan Hamas menyerahkan seluruh persenjataannya. Kesepakatan itu juga tidak mencantumkan kewajiban untuk mengeluarkan seluruh senjata dari Gaza maupun mengasingkan para pemimpin Hamas.
"Sebaliknya, kesepakatan itu berbicara mengenai penghentian pembunuhan dan kembali pada kendali 53 persen atas Jalur Gaza, bukan 65 persen," ujarnya.
Barak menggambarkan perkembangan tersebut sebagai kondisi yang pahit bagi Israel.
"Kenyataan pahitnya adalah Trump tidak lagi memedulikan Netanyahu, dan semua ini sangat mengkhawatirkan," ucapnya.
Baca Juga: Demonstran Gelar Aksi di Depan Gedung Putih Saat Netanyahu Kunjungi AS
Dia menilai posisi Netanyahu di hadapan Trump telah "benar-benar kehilangan daya tawar". Barak juga mengklaim bahwa orang-orang terdekat Trump tidak lagi memiliki tingkat kepercayaan yang sama terhadap Netanyahu.
"Hubungan Trump dengannya telah mengalami keretakan yang dalam," ujarnya.
Barak kemudian menyebut kelompok Hamas masih memiliki "puluhan ribu senjata". Menurutnya, belum terlihat adanya pembahasan serius mengenai mekanisme pengumpulan atau penarikan persenjataan tersebut.
"Kenyataan mendasar yang patut kita khawatirkan adalah bahwa Israel tidak memiliki suara dalam isu ini. Kesepakatan itu dicapai tanpa kehadiran Israel di meja perundingan," ucapnya.
"Trump, yang telah bertemu Netanyahu dalam pertemuan yang digambarkan oleh sang Perdana Menteri sebagai pertemuan terbaik mereka selama ini, kini secara efektif mengabaikannya," lanjut Barak.
Barak Soroti Sikap Trump terhadap Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Xinhua/Media Resmi Pemerintah Israel/am. (Antara)
Dalam membahas persoalan Iran, Barak turut menyinggung pernyataan Trump kepada wartawan yang menyebut bahwa "Netanyahu akan melakukan apa pun yang saya perintahkan".
Barak berpandangan Israel "tidak memiliki kemampuan nyata untuk menahan kehendak Trump". Sebaliknya, negara-negara di kawasan Teluk justru dinilai mendorong kebijakan yang berlawanan dengan keinginan Israel.
"Apa yang terjadi malam ini (pembatalan serangan AS terhadap Iran) sepenuhnya dapat diprediksi. Trump tidak menginginkan perang berskala besar," ujarnya.
Pada Sabtu, 1 Agustus 2026, Trump mengumumkan bahwa rencana serangan militer AS terhadap Iran dibatalkan. Trump mengatakan Iran bersama sejumlah negara Timur Tengah lainnya meminta tambahan waktu untuk menyelesaikan kerangka kesepakatan perdamaian.
Trump juga menyatakan Israel menjadi bagian dari komitmen tersebut. Dengan demikian, Tel Aviv turut membatalkan rencana serangan yang sebelumnya telah dipersiapkan terhadap Iran.
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Anadolu Agency/pri. (Antara)