Ilustrasi - Peluncuran rudal balistik (Antara)
Ntvnews.id, Washington D.C - Amerika Serikat dilaporkan menghadapi penurunan signifikan stok rudal pertahanan udara di tengah konflik berkepanjangan dengan Iran. Sebagian besar persediaan sistem pertahanan disebut telah digunakan untuk menghadapi serangan rudal dan drone yang diluncurkan Teheran.
Dilansir dari CNN International, Kamis, 6 Agustus 2026, sistem pertahanan udara yang ditempatkan di sejumlah negara kawasan Teluk menjadi garda terdepan dalam mencegat serangan Iran selama konflik berlangsung.
Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber kepada CNN, para komandan senior militer Amerika Serikat telah memperingatkan bahwa cadangan amunisi Pentagon kini semakin menipis.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa stok sistem pertahanan udara utama milik AS di Timur Tengah terkuras akibat tingginya intensitas operasi pencegatan terhadap serangan Iran.
Menurut dua sumber yang mengetahui laporan terbaru mengenai persediaan senjata, Amerika Serikat telah menghabiskan hampir empat perlima stok rudal THAAD dibandingkan jumlah yang dimiliki sebelum perang. Selain itu, sekitar setengah dari persediaan rudal pencegat Patriot juga telah digunakan sejak konflik dimulai. Informasi mengenai rendahnya stok THAAD ini disebut belum pernah dipublikasikan sebelumnya.
Baca Juga: Ukraina Kehabisan Rudal Patriot, Zelensky Desak Barat Segera Kirim Bantuan
Sementara itu, Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan bahwa sebelum konflik dengan Iran pecah, Amerika Serikat memiliki sekitar 2.200 rudal Patriot dari dua varian paling modern serta 452 rudal THAAD.
Kondisi tersebut juga memicu kekhawatiran di kalangan negara-negara sekutu AS di Timur Tengah. Mereka menilai berkurangnya persediaan sistem pertahanan udara dapat memengaruhi kemampuan menghadapi kemungkinan serangan balasan Iran apabila Presiden Donald Trump kembali meningkatkan eskalasi konflik.
Sejumlah pejabat menyebut beberapa negara di kawasan masih sangat bergantung pada sistem pertahanan udara milik Amerika Serikat. Menipisnya stok rudal dikhawatirkan akan mengurangi efektivitas mereka dalam mencegat rudal maupun drone yang diluncurkan Iran.
Rudal melintas di atas Yerusalem saat Iran menyerang Israel, Jumat (13/6/2025). (ANTARA/Xinhua/Chen Junqing) (Antara)
Persoalan keterbatasan persediaan senjata kembali menjadi perhatian menjelang keputusan Trump pada akhir pekan lalu untuk membatalkan rencana serangan baru terhadap Iran.
Dalam pembahasan mengenai kemungkinan peningkatan operasi militer, para penasihat militer senior Trump secara khusus mengingatkan tentang semakin berkurangnya stok amunisi utama yang dimiliki Amerika Serikat.
Selain itu, laporan internal Pentagon juga menyebut Angkatan Darat AS telah menggunakan hampir semua persediaan rudal permukaan-ke-udara jarak jauh berpresisi tinggi selama konflik berlangsung.
Sebelumnya, Reuters juga telah melaporkan adanya kekhawatiran terkait semakin menipisnya stok rudal presisi jarak jauh milik Amerika Serikat.
Sebuah spanduk yang menampilkan Presiden AS Donald Trump serta memuat pesan-pesan dipajang di depan rudal balistik Zolfaghar dan Zolghadr yang dipamerkan di Lapangan Azadi, Teheran, ibu kota Iran, pada 2 Agustus 2026. (Antara)