Basarnas Optimalkan Kekuatan Cari Jurnalis yang Hilang Kontak di Selat Sunda

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Sep 2026, 08:09
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Edy Prakoso (tengah) didampingi Direktur Kesiapsiagaan Basarnas Noer Isrodin (kanan) dan Direktur Operasi Basarnas Yudhi Bramantyo memberikan keterangan terkait operasi pencarian dan pertolongan terhadap lima Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Edy Prakoso (tengah) didampingi Direktur Kesiapsiagaan Basarnas Noer Isrodin (kanan) dan Direktur Operasi Basarnas Yudhi Bramantyo memberikan keterangan terkait operasi pencarian dan pertolongan terhadap lima (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengerahkan seluruh kekuatan dan armada gabungan untuk mencari lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak saat meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Edy Prakoso mengatakan operasi pencarian akan terus dilakukan secara maksimal dengan melibatkan berbagai unsur di lapangan.

"Basarnas beserta unsur di lapangan akan mengoptimalkan seluruh kekuatan yang ada. Mohon doanya semoga proses pencarian korban dapat berjalan dengan lancar, aman, dan selamat serta seluruh korban dapat ditemukan," kata Edy dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu malam.

Delapan orang yang masih dalam pencarian terdiri atas lima jurnalis, yakni M Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro dari iNews, Firdaus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis lepas.

Baca Juga: Basarnas Lampung Kerahkan Dua RIB Cari Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

Sementara itu, tiga orang lainnya adalah Warta yang bertugas sebagai kapten kapal, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), serta Heriyanto yang merupakan pemandu.

Edy menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Ia memastikan operasi SAR tetap dilaksanakan secara masif untuk menemukan seluruh korban.

Pada pencarian awal yang dilakukan Kantor SAR Banten pada Selasa, 8 September 2026, petugas mengerahkan KN SAR Tetuka dan RIB-02 untuk menyisir wilayah dalam radius 3,2 kilometer dari Gunung Anak Krakatau. Namun, upaya tersebut belum menemukan keberadaan delapan orang yang dicari.

Memasuki Rabu, 9 September 2026, area pencarian diperluas hingga 68,3 nautical mile dan dibagi menjadi empat sektor Unit Pencarian dan Pertolongan (SRU). Operasi tersebut melibatkan armada SAR dalam skala besar dari berbagai instansi.

Sejumlah armada yang diterjunkan antara lain KN SAR Tetuka milik Basarnas, KRI Loser, KRI Kerambit, KRI Lepu, KAL Anyer, dan KAL Pahawang milik TNI AL, serta KP Sanjaya dari Polairud.

Baca Juga: Kemkomdigi Perkuat Konektivitas Telekomunikasi untuk Dukung Pencarian Jurnalis di Selat Sunda

Selain itu, tiga unit Rigid Inflatable Boat (RIB) dari Kantor SAR Banten dan Kantor SAR Lampung turut dilibatkan bersama potensi SAR lokal, termasuk relawan dan nelayan.

"Dari rangkaian operasi sampai dengan saat ini, hasil pencarian masih nihil," kata dia yang didampingi Direktur Kesiapsiagaan Basarnas Noer Isrodin dan Direktur Operasi Basarnas Yudhi Bramantyo itu.

Basarnas akan kembali melanjutkan pencarian pada Kamis, 10 September 2026, pagi. Tim akan memprioritaskan penyisiran di sisi utara Gunung Anak Krakatau dengan tetap mempertimbangkan kondisi arus, pergeseran ombak, dan arah angin.

Edy juga mengingatkan masyarakat serta pelaku pelayaran yang melintas di sekitar Selat Sunda untuk mengikuti arahan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Mereka diminta tidak memasuki zona berbahaya dalam radius 3 kilometer dari puncak kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

Baca Juga: Solidaritas Insan Pers Gelar Doa Bersama untuk Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

Berdasarkan laporan PVMBG, Gunung Anak Krakatau mulai mengalami erupsi pada Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB. Abu vulkanik dari erupsi tersebut dilaporkan menyebar hingga ke sejumlah provinsi.

Saat ini, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu mewaspadai sejumlah potensi bahaya, seperti aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, dan hujan abu vulkanik.

(Sumber: Antara)

x|close