Ntvnews.id, Jenewa - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai risiko kesehatan masyarakat di Rusia masih berada pada level rendah setelah seorang teknisi laboratorium di pusat penelitian penyakit pes di Siberia dilaporkan meninggal dunia.
Teknisi perempuan yang bekerja di institut penelitian dan penanggulangan pes di wilayah Irkutsk, Siberia, tersebut diduga meninggal akibat pes pneumonik. Jenis penyakit pes ini merupakan bentuk paling berbahaya dan menular karena dapat menyebar melalui saluran pernapasan.
WHO menjelaskan pes pneumonik dapat menyebabkan gangguan hingga kegagalan fungsi paru-paru dan berpotensi mematikan apabila tidak segera mendapatkan penanganan.
Kabar kematian teknisi tersebut sempat memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan penyebaran penyakit pes. Sekitar 200 orang yang diketahui pernah melakukan kontak dengan korban dilaporkan menjalani karantina.
"Berdasarkan informasi yang tersedia, penilaian awal risiko oleh WHO memperkirakan tingkat risiko berada pada kisaran sedang hingga rendah untuk wilayah Irkutsk, risiko rendah untuk Federasi Rusia secara keseluruhan, dan risiko sangat rendah untuk kawasan Eropa WHO," kata juru bicara WHO, Christian Lindmeier, seperti dilansir dari AFP, Rabu, 7 Oktober 2026.
Baca Juga: Jadi Kandidat Dirjen WHO, Menkes Budi: Doakan Saja, Sudah Ditugaskan Bapak Presiden
"Seorang wanita yang bekerja di sebuah laboratorium di wilayah Irkutsk telah meninggal dunia, dan otoritas setempat sedang menyelidiki apakah pes pneumonik menjadi penyebab kematiannya," ucap Lindmeier dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss/
Lindmeier menyebut teknisi laboratorium tersebut diketahui bernama Darya Shipilova, 28 tahun. Ia bekerja di sebuah institut yang melakukan penelitian terhadap berbagai patogen berbahaya di kawasan Siberia, tempat penyakit pes diketahui dapat muncul secara alami pada hewan liar.
"Penyakit ini awalnya menunjukkan gejala yang khas seperti infeksi virus saluran pernapasan akut," ujarnya.
WHO Sebut Tak Ada Patogen Berbahaya pada Orang yang Kontak dengan Korban
Lindmeier mengatakan otoritas Rusia telah mendata orang-orang yang sebelumnya melakukan kontak dengan Shipilova dan masih melakukan pemantauan terhadap mereka.
"Berdasarkan hasil tes, tidak ditemukan patogen penyakit menular berbahaya pada satu pun orang yang pernah melakukan kontak tersebut," tegasnya.
WHO juga terus memantau perkembangan situasi tersebut dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan informasi terkait kondisi tersebut dapat disampaikan kepada negara lain.
"WHO memantau situasi ini dengan saksama, bekerja sama dengan kantor pusat untuk terus memberikan informasi kepada negara-negara lainnya," ucap Lindmeier. Ia menambahkan WHO siap memberikan dukungan kepada pemerintah Rusia apabila diperlukan.
Baca Juga: Jadi Kandidat Dirjen WHO, Menkes Budi: Doakan Saja, Sudah Ditugaskan Bapak Presiden
Sebelumnya, media Rusia People of Baikal yang mengutip sejumlah sumber anonim yang disebut dekat dengan aparat keamanan regional melaporkan pada Jumat, 2 Oktober 2026, bahwa teknisi tersebut kemungkinan tertular pes pneumonik setelah sebuah tabung reaksi pecah di laboratorium.
Sejumlah media lokal lainnya juga memberitakan dugaan hubungan antara kematian teknisi tersebut dengan insiden kecelakaan yang terjadi di laboratorium di Irkutsk.
People of Baikal melaporkan sekitar 200 orang yang diduga sempat berinteraksi dengan korban telah menjalani karantina, meski media tersebut tidak memberikan informasi lebih rinci mengenai kondisi mereka.
Foto yang diambil pada 21 Mei 2023 ini memperlihatkan logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan latar belakang kantor pusat WHO di Jenewa, Swiss. (Antara)