Ntvnews.id, Washington D.C - Amerika Serikat mengungkap sebanyak 91 pesawat militernya mengalami kerusakan hingga hilang selama konflik dengan Iran.
Data tersebut tercantum dalam laporan terbaru Congressional Research Service (CRS) yang diterbitkan pada Senin, 5 Oktober 2026 Berdasarkan laporan yang dikutip English Al Arabiya, jumlah tersebut mencakup pesawat bersayap tetap, helikopter, hingga sistem tanpa awak atau drone.
Dari keseluruhan kerugian, sebanyak 49 drone MQ-9 Reaper dilaporkan hilang. Selain itu, terdapat 12 pesawat tempur F-15E Strike Eagle yang terdampak, termasuk tiga unit yang ditembak jatuh di Kuwait dan satu unit yang hancur di Iran.
Sebanyak delapan pesawat F-15 lainnya mengalami kerusakan ringan. Kerusakan ringan juga dialami satu unit F-35A Lightning II, dua A-10 Thunderbolt II, tujuh pesawat tanker KC-135, serta satu pesawat peringatan dini E-3 Sentry.
Laporan CRS turut mencatat dua pesawat operasi khusus MC-130J, satu drone MQ-4C Triton, serta tiga drone MQ-1 terdampak dalam operasi militer AS di Iran.
Kerugian juga terjadi pada armada helikopter, termasuk AS-64 Apache serta empat AH-6 Little Bird dan satu MH-6 Sea Hawk.
Baca Juga: Pilot Asal Amerika Serikat Tewas Ditembak, Jenazah Berhasil Dievakuasi dari Yahukimo
CRS mengingatkan jumlah tersebut masih dapat berubah karena adanya perbedaan klasifikasi, operasi tempur yang masih berlangsung, serta kerugian yang disebabkan kecelakaan. Sejumlah pesawat yang mengalami kerusakan juga masih berpeluang kembali digunakan setelah menjalani perbaikan.
Menurut CRS, besarnya kerugian tersebut dapat menimbulkan sejumlah persoalan dalam pengawasan Kongres. Salah satunya terkait kecukupan informasi dan anggaran yang dimiliki Kongres serta Pentagon untuk mengganti pesawat yang rusak atau hilang.
Laporan tersebut juga menyoroti potensi tekanan terhadap industri pertahanan AS, khususnya kapasitas produksi dan rantai pasok. Kondisi itu dapat semakin kompleks karena harus berhadapan dengan permintaan lain, termasuk kebutuhan penjualan senjata dan peralatan militer ke negara-negara asing.
Amerika Serikat bersama sekutunya, Israel, melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah anggota keluarganya.
Iran kemudian merespons dengan menyerang pangkalan militer AS di sejumlah negara Timur Tengah dan Israel. Teheran juga menutup Selat Hormuz sebagai bagian dari eskalasi konflik.
Hingga kini, konflik kedua pihak masih berlangsung meski sebelumnya sempat terjadi gencatan senjata dan kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang ditujukan untuk mengakhiri perang.
Ilustrasi. Bendera Amerika Serikat