MBG Turunkan Persentase Siswa yang Belajar dalam Kondisi Lapar Jadi 16 Persen

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Okt 2026, 19:45
thumbnail-author
Amanda Putri Utomo
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
siswa menyantap makanan bergizi gratis siswa menyantap makanan bergizi gratis

Ntvnews.id, Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak terhadap kondisi siswa saat mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat, persentase siswa yang datang ke sekolah dalam keadaan lapar kini turun menjadi sekitar 16 persen, dari sebelumnya lebih dari 56 persen.

Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan, penurunan tersebut berkaitan dengan pelaksanaan program pemenuhan gizi yang ditujukan untuk mendukung kebutuhan nutrisi anak selama masa pertumbuhan.

"Persentase siswa yang datang ke sekolah dalam kondisi lapar turun dari sebelumnya lebih dari 56 persen menjadi sekitar 16 persen berkat pelaksanaan Program MBG," kata Juru Bicara BGN Tysa Novenny saat dihubungi di Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026.

Selain mengurangi jumlah siswa yang berangkat ke sekolah tanpa makan, program MBG juga diikuti peningkatan jumlah siswa yang merasa kenyang ketika belajar. Menurut Tysa, persentasenya naik dari 43 persen menjadi 84 persen.

Baca Juga: Awasi Standar Dapur, BGN Uji Coba Integrasikan CCTV MBG ke Pusat

Perubahan juga tercatat pada pola konsumsi makanan bergizi. Konsumsi buah meningkat dari 26 persen menjadi 84 persen, sedangkan konsumsi protein yang sebelumnya berada di kisaran 30–40 persen kini mendekati 80 persen.

"Konsumsi buah meningkat dari 26 persen ke 84 persen, konsumsi protein yang sebelumnya berada pada kisaran 30-40 persen kini meningkat hingga mendekati 80 persen," ujarnya.

Ia menegaskan pemerintah berharap angka stunting pada anak bisa turun sesuai target nasional sebesar 18 persen pada tahun 2026 untuk menuju Indonesia nol stunting dengan adanya Program MBG.
Di sisi pelaksanaan, BGN tengah menguji penerapan layanan MBG dengan sistem prasmanan di 66 lokasi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengevaluasi dan meningkatkan tata kelola program agar pelaksanaannya semakin baik.

BGN juga menginstruksikan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Indonesia untuk menghubungkan kamera pengawas atau CCTV di dapur masing-masing dengan pusat pemantauan. Melalui sistem ini, aktivitas dapur diharapkan dapat diawasi secara langsung atau real-time.

Baca Juga: Siap-siap! Program MBG Masuk Pesantren di Pulau Jawa Akhir Oktober Ini

"CCTV seluruh dapur akan terkoneksi ke pusat untuk memantau apakah SOP di tiap dapur dijalankan atau tidak. Selain itu dari segi komunikasi pun, kami perbaiki lebih intensif, baik komunikasi publik maupun antar-lembaga," ucap Tysa.

Seiring dengan perluasan program, pemerintah juga meningkatkan pengawasan terhadap jangkauan layanan dan standar keamanan pangan. Hingga 30 September 2026, MBG tercatat telah menjangkau 57 juta penerima manfaat dengan dukungan 27.486 SPPG di berbagai wilayah.

Untuk memastikan aspek kebersihan dan keamanan makanan, BGN menghentikan sementara operasional 1.276 SPPG yang belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan penyediaan makanan bagi penerima manfaat memenuhi ketentuan sanitasi.

Pada periode yang sama, realisasi anggaran MBG mencapai Rp153,2 triliun atau sekitar 66,9 persen dari pagu efektif sebesar Rp229 triliun.
Pemerintah selanjutnya menargetkan cakupan program semakin luas pada 2027, dengan sasaran 72,4 juta penerima manfaat. Jumlah tersebut mencakup peserta didik serta kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

(Sumber: Antara) 

x|close