Ntvnews.id, Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI meminta para santri meningkatkan budaya literasi. Ini disampaikan Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih, memperingati Hari Santri Nasional 2026.
Menurut Fikri, memperkuat tradisi membaca dapat turut mendorong kemajuan bangsa.
"Kunci utama untuk mengejar ketertinggalan tersebut sejatinya lekat dengan jati diri seorang santri, yaitu tradisi membaca," ujar Fikri, Kamis, 22 Oktober 2026.
Dirinya mengatakan, penguatan tradisi membaca penting dilakukan di tengah tantangan literasi nasional. Menurut Fikri, kebiasaan membaca tidak hanya terbatas pada kitab suci, tetapi juga perlu mencakup buku ilmu pengetahuan, prosa, puisi, dan karya fiksi.
Baca Juga: Hari Santri 2026, Istana: Komitmen Perkuat Kelembagaan Pesantren
Fikri menjelaskan, tradisi membaca itu sejalan dengan nilai yang melekat pada kehidupan santri, yakni semangat menimba ilmu. Ia juga mengaitkan istilah santri dengan kata shastri dalam bahasa Sanskerta yang merujuk pada orang yang membaca kitab suci.
Di samping itu, kata dia, mengacu pandangan cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid yang menghubungkan istilah santri dengan kata cantrik, yakni sosok yang menyertai tokoh tertentu sembari terus menimba ilmu.
Menurutnya, semangat membaca juga dapat dimaknai secara lebih luas, yakni kemampuan memahami keadaan dan perkembangan zaman. Kepekaan tersebut, kata Fikri, menjadi bagian penting dari peran santri dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Dirinya mencontohkan peran kalangan santri dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama setelah proklamasi pada 17 Agustus 1945. Fikri menyebut ketajaman membaca situasi turut membangun kesadaran untuk menghadapi kembalinya penjajah.
Ia pun mengingatkan peran KH Hasyim Asy'ari yang pada 22 Oktober 1945 menginstruksikan para santri untuk bangkit melawan penjajah demi merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Fikri ingin semangat perjuangan tersebut terus dihidupkan melalui penguatan budaya membaca dan belajar di lingkungan pesantren.
Sebagai anggota DPR RI yang bermitra dengan sejumlah sektor pendidikan, termasuk Perpustakaan Nasional, ia menilai perluasan cakupan bacaan dapat membantu santri meningkatkan pengetahuan sekaligus memahami persoalan yang dihadapi masyarakat.
Sehingga, peringatan Hari Santri pada akhirnya bukan cuma menjadi pengingat sejarah perjuangan, tetapi juga momentum untuk memperkuat tradisi keilmuan agar santri dapat berkontribusi dalam menjawab tantangan zaman dan memajukan peradaban bangsa.
Menteri Agama Nasaruddin Umar memimpin jalannya upacara peringatan Hari Santri 2026 di Jakarta, yang juga menandai komitmen pemerintah melalui kehadiran Direktorat Jenderal Pesantren.