PSI ke Demokrat soal Putusan Suket Gibran: Kepingin AHY jadi Wapres?

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Nov 2026, 15:19
thumbnail-author
Moh. Rizky
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Bestari Barus. Bestari Barus. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Ketua DPP PSI Bestari Barus menanggapi ucapan Wasekjen Partai Demokrat Jansen Sitindaon, yang menyarankan Gibran Rakabuming Raka mundur atau dimundurkan dari jabatan wapres, setelah Mahkamah Agung (MA) memutuskan surat keterangan (suket) penyetaraan ijazah SMA Gibran dinyatakan tak sah. Bestari mengaku heran karena Demokrat terburu-buru merespons putusan itu.

Mulanya, Bestari mempersoalkan salinan putusan MA atas suket penyetaraan ijazah SMA Gibran. Dia bertanya apakah salinan putusan itu sudah dipublikasikan ke publik.

"Iya. Pertama, saya bertanya, apakah sudah melihat secara langsung atau mengakses langsung yang namanya salinan putusan MA? Artinya belum ada sesuatu yang resmi terkait sikap MA atau putusan MA yang di-publish ke publik. Lantas, dia (Jansen) menyampaikan itu sebagai apa, dalam kapasitas apa, dan dasar daripada informasinya apa gitu?" ujar Bestari, Senin, 2 November 2026.

Bestari memandang, apabila salinan putusan MA terkait perkara Gibran belum ada di publik, seharusnya belum bisa disikapi. Ia pun curiga Demokrat terburu-buru karena ingin AHY menjadi wapres.

"Ya kalau mengatakan memang belum ada salinan putusan yang disampaikan atau dicatat dalam lembaran negara, artinya apa yang disampaikan oleh Jansen itu hanya boleh disikapi oleh sekelompok Demokrat saja. Bukan untuk kemudian disebarluaskan kepada publik. Ngapain buru-buru menyikapi itu? Kepingin AHY jadi wakil presiden?" paparnya.

"Atau pengin cepat-cepat AHY dicalonkan jadi wakil presiden? Ya sebaiknya Demokrat itu lebih dewasa dalam berpolitik," imbuh Bestari.

Ia menilai pernyataan Jansen justru memicu huru-hara di publik. Bestari meminta Jansen membaca lebih dalam salinan putusan MA terlebih dulu.

Baca Juga: Daftar 21 Kelompok Masyarakat yang Bisa Naik Transportasi Umum Gratis di Jakarta

"Jangan kemudian justru menjadi pemicu huru-hara wacana di kancah politik dan di masyarakat. Jansen dan mungkin AHY belajar lebih dalam tentang apa yang diputuskan. Membaca pun belum, bagaimana kemudian mengomentari, gitu loh, salinan putusan itu. Jangan buru-buru pengin jadi wapres. Apakah begitu cara politisi bersikap atau menyikapi sesuatu yang belum ada kepastiannya, kemudian ikut membuat huru-hara wacana? Saya kira harus lebih bijak di dalam menyampaikan statement," jelasnya.

Bestari lantas meminta semua pihak menunggu salinan putusan MA terkait suket Gibran dirilis ke publik. Menurut dia, apabila salinan putusan sudah dirilis, barulah bisa didalami bersama.

"PSI selaku pendukung yang paling pertama, ya, hadir untuk menguatkan barisan Prabowo-Gibran, ya, agak berbeda pandang dengan pendukung Prabowo-Gibran yang datang di ujung-ujung, ya, yang datang di ujung-ujung, gitu," papar Bestari.

"Kita menunggu salinan putusan MA terkait itu. Nanti kita baca bersama-sama, kita dalami bersama-sama apa sebetulnya yang melandasi keputusan, ya nanti tunggu resminya setelah dikeluarkan oleh MA, baru kita dalami terlebih dahulu. Gitu. Jangan kelihatan gaya buru-buru," sambungnya.