Kepala Mossad Israel Kunjungi AS, Bahas Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Jan 2026, 09:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
badan intelijen luar negeri Israel, Mossad badan intelijen luar negeri Israel, Mossad (Anadolu)

Ntvnews.id, Washington D.C - Kepala badan intelijen Israel Mossad, David Barnea, dilaporkan melakukan kunjungan ke Amerika Serikat untuk berkonsultasi mengenai situasi Iran di tengah berlanjutnya gelombang aksi protes di negara tersebut. Informasi ini dilaporkan Axios pada Jumat dengan mengutip sejumlah sumber.

Dilansir dari Reuters, Sabtu, 17 Januari 2026, menyebut dalam laporan itu disebutkan bahwa Barnea dijadwalkan bertemu dengan utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, di Florida. Namun, belum ada kepastian apakah pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump juga akan berlangsung.

Isu utama yang akan dibahas dalam agenda tersebut dikabarkan menyangkut kemungkinan serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran.

Sejumlah pejabat Israel menilai serangan itu berpotensi dilakukan dalam waktu dekat. Meski demikian, mereka juga menyuarakan kekhawatiran bahwa Iran dapat memanfaatkan penundaan untuk memperkuat posisinya sekaligus mengurangi tekanan dari Amerika Serikat.

Baca Juga: Mossad Israel Serukan ke Demonstran Iran untuk Teruskan Aksi Protes

Sementara itu, The New York Times, melaporkan, mengutip seorang pejabat AS, bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Rabu telah meminta Trump agar menunda rencana serangan militer terhadap Iran.

Meski demikian, Presiden Amerika Serikat dilaporkan belum menutup kemungkinan penggunaan opsi militer terhadap Teheran.

Media News Nation juga memberitakan bahwa Qatar, Arab Saudi, dan Oman ikut melakukan pendekatan kepada Trump agar menghindari langkah serangan terhadap Iran.

Ilustrasi - Aksi unjuk rasa di Iran. ANTARA/Anadolu/as. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Aksi unjuk rasa di Iran. ANTARA/Anadolu/as. (Antara)

Aksi protes di Iran sendiri mulai pecah pada akhir Desember 2025. Gelombang unjuk rasa dipicu oleh kekhawatiran publik terhadap lonjakan inflasi akibat melemahnya nilai tukar mata uang nasional, rial Iran.

Sejak 8 Januari, menyusul seruan Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979, demonstrasi semakin meluas dan berlangsung lebih intens.

Baca Juga: Menteri Israel Akui Agen Mossad Susupi Demonstrasi di Iran

Pada hari yang sama, akses internet di Iran dilaporkan diblokir. Di sejumlah kota, aksi unjuk rasa berubah menjadi bentrokan dengan aparat kepolisian, ketika massa meneriakkan slogan-slogan yang mengkritik pemerintah.

Terdapat laporan mengenai korban luka maupun tewas di kalangan aparat keamanan dan para demonstran.

Sebelumnya, pada akhir Desember, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan mendukung serangan baru terhadap Iran jika Teheran kembali berupaya melanjutkan pengembangan program rudal dan nuklirnya. Di tengah gelombang protes di Iran, Trump juga mengancam akan melancarkan serangan besar apabila para demonstran dibunuh.

TERKINI

Trump Ledek Macron dan Ancam Prancis Kena Tarif 25 Persen

Luar Negeri Sabtu, 17 Jan 2026 | 12:15 WIB

Pererat Hubungan, Jepang dan Korsel Waspadai Arah Kebijakan AS

Luar Negeri Sabtu, 17 Jan 2026 | 12:00 WIB

Perampokan Bersenjata Sasar Toko Pokemon

Luar Negeri Sabtu, 17 Jan 2026 | 11:20 WIB

10 Negara Paling Aman untuk Wisatawan 2026

Luar Negeri Sabtu, 17 Jan 2026 | 11:00 WIB

Geger Ancaman Bom di Pesawat, Protokol Keamanan Diberlakukan

Luar Negeri Sabtu, 17 Jan 2026 | 10:45 WIB

Denmark Ungkap Perbedaan Pemahaman dengan AS soal Greenland

Luar Negeri Sabtu, 17 Jan 2026 | 10:25 WIB
Load More
x|close