Ntvnews.id, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya turut menyampaikan sambutan dalam acara tersebut.
Pada bagian awal sambutannya, Gus Yahya menyinggung berbagai dinamika yang sempat terjadi di tubuh PBNU dalam beberapa waktu terakhir. Ia pun mengungkapkan rasa syukur karena peringatan Harlah ke-100 dapat dilaksanakan secara bersama-sama.
"Alhamdulillah. Bapak Ibu yang saya hormati, syukur kepada Allah SWT. Setelah didahului dengan hujan lebat pagi tadi, dan juga didahului dengan dinamika yang tidak kalah lebatnya, hari ini kita rayakan, kita peringati Harlah 100 tahun Masehi Nahdlatul Ulama sebagai Nahdlatul Ulama yang satu," kata Gus Yahya.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun Jadi Rp2,86 Juta per Gram
Pada peringatan satu abad ini, NU mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”. Gus Yahya menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih karena visi dan idealisme NU sejalan dan seirama dengan visi serta idealisme Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurutnya, NU sejak awal berdiri memiliki cita-cita untuk turut berjuang membangun peradaban yang lebih luhur bagi seluruh umat manusia.
"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan bahwa kita semua, sebagai bangsa, sebagai negara, harus ikut serta menjalankan ketertiban dunia yang berdasarkan atas kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial," ujarnya.
Gus Yahya (NTVnews)
Ia menambahkan bahwa nilai-nilai tersebut merupakan perumusan visi dan idealisme yang telah ditanamkan sejak NU didirikan, lalu diwujudkan dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.
"Semua itu adalah rumusan yang merupakan wujud dari visi dan idealisme yang didirikan oleh Nahdlatul Ulama, yang ditetapkan ketika didirikan Nahdlatul Ulama, dan kemudian dimanifestasikan di dalam wujud Negara Kesatuan Republik Indonesia," tambahnya.
Gus Yahya (NTVnews)