Investigasi Jatuhnya Pesawat Carter Pelita Air Dimulai, Pilot Tewas di Lokasi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Feb 2026, 11:40
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Pesawat yang dioperasikan Pelita Air dengan registrasi PK-PAA. Pesawat yang dioperasikan Pelita Air dengan registrasi PK-PAA. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - PT Pelita Air Service bekerja sama dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk menyelidiki penyebab jatuhnya pesawat carter di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang menewaskan pilot.

"Pelita Air bersama KNKT akan memberangkatkan tim gabungan ke Long Bawan pada 20 Februari 2026 untuk segera memulai proses investigasi penyebab jatuhnya pesawat," ujar Corporate Secretary Pelita Air Service Patria Rhamadonna dalam pernyataan di Jakarta, Kamis, 19 Februari 2026.

Pesawat yang jatuh merupakan armada kargo pengangkut bahan bakar, bukan pesawat penumpang, dan menjalankan misi rutin distribusi program BBM Satu Harga di wilayah Kalimantan Utara.

Baca Juga: TNI Temukan Jenazah Pilot Pelita Air di Pegunungan Pabetung Remayo Nunukan

Pesawat dilaporkan lepas landas pukul 10.22 WITA dan mendarat dengan aman di Long Bawan pada pukul 11.24 WITA. Petugas darat pun segera melakukan pembongkaran muatan, sehingga pesawat siap kembali menuju Tarakan dalam kondisi tanpa muatan pada pukul 12.10 WITA.

Namun, pada pukul 12.30 WITA, kantor pusat PT Pelita Air Service di Jakarta menerima laporan awal mengenai pesawat PK-PAA yang diduga jatuh tak jauh dari Bandara Long Bawan, menewaskan pilot di lokasi kejadian.

Baca Juga: Pertamina Pastikan Pasokan BBM di Krayan Tetap Stabil Usai Kecelakaan Pesawat Pelita Air

Pelita Air memastikan armada yang digunakan adalah tipe Air Tractor AT-802 produksi 2013, dalam kondisi laik terbang, dan telah menjalani perawatan rutin terakhir pada 15 Februari 2026.

Penerbangan itu diawaki satu pilot, Capt. Hendrick Lodewyck Adam, 54 tahun, yang bergabung dengan PT Pelita Air Service sejak Juli 2021 dengan pengalaman terbang lebih dari 8.000 jam.

Manajemen perusahaan menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya pilot dan menegaskan akan memenuhi seluruh hak serta santunan kepada keluarga almarhum, termasuk memberikan pendampingan selama masa duka.

Pelita Air juga menekankan komitmen untuk berkoordinasi dengan KNKT, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, serta pihak terkait agar proses investigasi berjalan transparan dan komprehensif.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F. Laisa mengatakan pesawat telah menjalani pemeriksaan rutin 100 jam dan 200 jam pada 11 Februari 2026, dengan total jam terbang mencapai 3.303 jam.

Baca Juga: Kronologi Jatuhnya Pesawat Pelita Air Service di Nunukan yang Sebabkan Pilot Meninggal Dunia

"Proses investigasi akan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku oleh instansi berwenang," tegas Lukman di Jakarta, Kamis, 19 Februari 2026.

Komandan Lanud Anang Busra Marsma TNI Andreas A. Dhewo menambahkan bahwa saat keberangkatan pesawat, kondisi cuaca dilaporkan hujan ringan dengan jarak pandang sekitar 6 kilometer, awan rendah (cloud base) broken di ketinggian 1.400 feet, dan suhu 23,9 derajat Celsius.

"Beberapa menit kemudian, saksi mata melihat pesawat menurun dalam posisi miring ke arah perbukitan di ujung runway 22," kata Andreas.

Sekitar pukul 12.25 WITA, saksi mata di Bandara Yuvai Semaring, Krayan, melihat pesawat miring menurun ke belakang bukit di ujung pendekatan runway 22. AirNav unit Long Bawan kemudian berkoordinasi dengan pihak bandara.

"Tim gabungan bersama masyarakat segera bergerak ke lokasi dan pesawat ditemukan pukul 14.33 WITA," tambah Andreas.

(Sumber: Antara) 

x|close